Sediakan Fasilitas Berbasis Kebutuhan Pekerja

PT Pan Brothers Tbk merupakan perusahaan manufaktur garmen terbesar di Indonesia yang telah melayani kebutuhan label internasional, seperti Uniqlo, Nike, Adidas, The North Face, dan H&M. Negara tujuan ekspor Pan Brothers mencakup Amerika Serikat, Uni Eropa, Eropa Timur, Kanada, hingga Jepang. Berpijak pada reputasi perusahaan yang cemerlang, Anne terus berambisi membawa produk perusahaan Indonesia ke kancah global. “Saya selalu percaya Indonesia bisa jadi nomor satu,” cetus Anne yang juga Ketua Panitia acara HeForShe Run 2018 yang diselenggarakan awal Maret ini.

* * * * *

Ket. Anne (membuat tanda "V") bersama sejumlah perwakilan perusahaan pendiri IBCWE di acara HeForShe Run 2018

Mendukung Angkatan Kerja Perempuan

Anne sendiri menyimpan mimpi besar dengan keyakinan bahwa produk Indonesia mampu tampil menjadi nomor satu.  Peraih gelar Master bidang Administrasi Bisnis di Loyola Merymount University, Amerika Serikat, ini telah berkomitmen dengan pilihan untuk membangun bisnis,  menekuni karier, sekaligus menjalani peran sebagai istri dan ibu. “At the end of the day, we’re a mom, and we’re also the boss (di akhir waktu, kita adalah ibu dan juga pemimpin),” Tegas pemimpin dari 30 ribu pekerja dan ibu dari dua anak ini.

Kontribusi Anne untuk penyerapan tenaga kerja perempuan di Indonesia terbilang besar. Data Badan Pusat Statistik tahun 2017 mencatat, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan meningkat dari 52,71 persen menjadi 55,04 persen. PT Pan Brothers Tbk merupakan salah satu perusahaan yang turut mendukung angkatan kerja perempuan. Pada level direktur, perbandingan pimpinan perempuan dan lelaki sudah mencapai 50:50. Angka yang sama pun berlaku pada level manajer. Hanya saja, di level general manager, total perempuan yang terlibat tidak lebih dari 10 persen. Namun pada level operator, jumlah pekerja perempuan meningkat sampai 90 persen dan 10 persen laki-laki. Namun, untuk pabrik baru, mereka mulai menerapkan 60 persen perempuan dan 40 persen laki-laki. “Sebenarnya, kita inginnya 80:20 atau 75:25, tapi sekarang kita bisa melihat bahwa angkatan kerja laki-laki sudah oke,” cetus Anne.

Menghadirkan Fasilitas Ruang Laktasi

Bagi Anne, mendukung tenaga kerja perempuan di PT Pan Brothers tidak cukup hanya dengan menyediakan lapangan kerja. Sejumlah kebijakan dan regulasi yang memfasilitasi kebutuhan perempuan pekerja diterapkan, diantaranya Pasal 128 UU Kesehatan mengenai pemberian ASI eksklusif, serta Pasal 83 Undang-undang No.13/2003 mengenai hak pekerja/buruh perempuan untuk menyusui. Anne mengungkapkan, sebagai bentuk komitmen mewujudkan kebijakan tersebut PT Pan Brothers menyediakan fasilitas ruang laktasi. “Mereka diberi kesempatan untuk menyusui. Kita juga ada ruangan laktasi, ada kesempatan untuk menyimpan air susunya, ada juga kulkasnya, supaya mereka bisa bawa pulang ASI untuk anak-anak mereka,” kata Anne yang semula ingin menjadi ilmuwan dengan mempelajari Teknik Kimia di Universitas Southern California.

Saat ini, Anne beserta anggota IBCWE lainnya tengah melakukan survei untuk menyusun kebijakan berkaitan dengan kesetaraan gender di perusahaan. “Kita juga melakukan survei bersama IBCWE. Setelah mereka melahirkan, apa yang mereka butuhkan supaya mereka bisa tetap meniti karier. Hal ini juga dilakukan supaya kebijakan bisa tepat sasaran. Jangan sampai kita memberikan infrastruktur atas inisiatif sendiri, melainkan berbasis kebutuhan para pegawai,” Tegas Anne.

Ket. Anne melayani permintaan foto dari pekerja pabriknya yang berpartisipasi di HeForShe Run 2018

Tidak Pernah Diremehkan Karena Gender

“Saya itu tidak pernah diremehkan karena saya perempuan. Kalaupun diremehkan karena hal-hal tertentu,” ujar Anne tegas. Kritik yang datang kepadanya sudah pasti berkaitan dengan dunia bisnis dan kerja. Selama menjadi pimpinan perusahaan dan melakukan kerja sama dengan perusahaan asing, Anne menegaskan tidak pernah mengalami diskriminasi gender di dunia kerja.

Bagi Anne, sikap netralnya turut membangun pandangan orang lain terhadap dirinya sebagai pemimpin perempuan. Ia tak pandang jenis kelamin ketika berbisnis, sekali partner bisnis tetap partner bisnis. “Ketika saya melihat lelaki, saya tidak melihat mereka sebagai lelaki, tapi sebagai partner bisnis dan hubungan bisnis lainnya. Meskipun mereka benar-benar tampan, saya tidak pernah melihat seperti itu. Karena itu, mereka juga jadi lebih nyaman berinteraksi dengan saya. Saya enggak flirty, kalau ngomong juga to the point,” cerita Anne.

Pondasi Komitmen & Kepercayaan Suami

Anne mengaku  memiliki kesibukan yang cukup padat di dunia kerja. Adanya asisten rumah tangga, pengasuh dan supir diakui membuat urusan rumah jadi lebih ringan. Anne pun dengan jujur mengakui bahwa Edmond Setiadarma, sang suami, justru lebih turun tangan mengurus anak, "Lebih sering suami saya yang mengurus anak daripada saya. Kebetulan waktu saya memang lebih padat, dia lebih santai. Kalau kami benar-benar enggak bisa, misal untuk bagi rapot atau ke dokter, kita either minta keluarga atau nanny. Tentu kami terus follow up lewat telepon,” Ujar Anne.

Dari pengalaman pribadi menjalankan perusahaan selama lebih dari dua puluh tahun sekaligus berkeluarga, Anne menyatakan telah membuat pilihan yang membutuhkan pengorbanan. Untuk itu, ia berupaya memberikan pengertian pada anak-anaknya mengenai apa yang menjadi pilihannya. “Untuk semua wanita karier, jangan takut untuk mencapai yang kalian mau. Karena pada akhirnya, kalau kalian melakukan ini secara tulus, anak-anak akan mengerti mengapa kalian melakukan hal ini. Kalian hanya perlu menjelaskan, kenapa kalian harus bekerja,” Jawab Anne ketika ditanya hal apa yang ingin ia sampaikan pada perempuan yang memilih meniti karir di luar rumah.


Download File