Mencetak Tenaga Ahli Pertekstilan melalui AK-Tekstil Solo

Tekstil dan produk tekstil (TPT) menjadi salah satu dari lima sektor manufaktur yang diprioritaskan pemerintah untuk dikembangkan dalam penerapan revolusi industri ke empat. Hal ini sesuai dengan peta jalan Making Indonesia 4.0, yang mencanangkan target masuk lima besar dunia pada tahun 2030 untuk industri TPT.

Di Jawa Tengah, industri TPT meliputi wilayah Solo, Boyolali, Sukoharjo, Sragen, dan Wonogiri. Sejak beberapa tahun terakhir, di tempat ini banyak terjadi pertumbuhan industri, baik berupa investasi baru, perluasan pabrik, maupun relokasi pabrik dari wilayah Jabotabek. Inilah yang membuat potensi industri TPT semakin dilirik. Inilah yang mendasari berdirinya Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil (AK-Tekstil) di Solo, Jawa Tengah.

Diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 22 Januari 2016, berdirinya AK-Tekstil ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing industri TPT nasional. Pendirian akademi ini sudah mendapat persetujuan dari Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi, serta Kementerian PAN dan RB. Dengan demikian, akademi ini resmi menjadi perguruan tinggi vokasi industri di bawah Kementerian Perindustrian, serta bekerja sama dengan Pemerintah Kota Solo dan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API).

Ada tiga program studi yang diajarkan di AK-Tekstil, yaitu Program Studi Pembuatan Benang, Pembuatan Kain dan Pembuatan Garmen. Mengingat peminatnya cukup banyak, proses perekrutan mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu masyarakat umum dan karyawan perusahaan garmen. Saat menjalani pendidikan selama dua tahun, seluruh biaya pendidikan akan digratiskan. Setelah lulus, semua wisudawan akan ditempatkan bekerja di perusahaan tekstil yang berada di Solo dan sekitarnya.

Salah satu inisiator berdirinya AK-Tekstil Solo, sekaligus Komite Lingkungan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), adalah dari PT Dan Liris, Harisson Silaen, mengatakan, metode pembelajaran yang diterapkan oleh AK-Tekstil Solo mengadopsi konsep dual system dari Jerman. Setiap semester, selama satu bulan mahasiswa akan belajar teori, dan satu setengan bulan praktik di kampus, pada satu setengah bulan sisanya akan melakukan praktik kerja di perusahaan. “Dengan mengadopsi konsep ini, pendidikan di kampus dan pengalaman kerja di industri akan lebih mudah diintegrasikan, sehingga lulusan yang dihasilkan benar-benar lulusan yang siap kerja,” ujar Harisson.

Untuk mencetak sumber daya manusia di industri TPT yang unggul dan berdaya saing, AK-Tekstil telah melakukan redesign kurikulum, terkait dengan perkembangan industri saat ini.  Karena itu, beberapa perusahaan tekstil sudah membuka diri untuk menerima lulusan AK-Tekstil, yang diharapkan bisa memperkuat kinerja perusahaan. Beberapa perusahaan tekstil diantaranya adalah PT Dan Liris, PT Sri Rejeki Isman Tbk, PT Pan Brothers Tbk, PT Duniatex, dan sebagainya.

Pembantu Direktur AK-Tekstil Solo, Hendi Dwi Hardiman, mengaku, tingginya kebutuhan SDM di bidang tekstil saat ini, belum bisa dipenuhi sepenuhnya oleh AK-T Solo, mengingat masih ada kesenjangan antara kebutuhan industri dengan jumlah lulusan. Dengan adanya AK-T Solo, Hendi tetap yakin akan terjalin sinergi dan kerja sama baik antara perguruan tinggi dengan perusahaan industri. Perusahaan dapat memberikan tempat bagi lulusan AK-T Solo agar bisa langsung bekerja, serta perusahaan lain tidak lagi khawatir mengenai kompetensi yang dimiliki oleh lulusan di tempat tersebut.  Saat ini, seluruh lulusan langsung ditempatkan bekerja pada industri yang sudah menandatangi MOU dengan AK-T Solo.


Download File