Kebijakan Pendukung Ibu Bekerja

Pengalaman Satia Indrarini, HR Director Bank DBS Indonesia, sebagai ibu bekerja dengan tiga anak membuatnya bertekad menciptakan tempat kerja yang nyaman bagi perempuan.

* * * * *

Fleksibilitas Berdampak Loyalitas

Satia mengenang gambaran sebuah situasi dalam kehidupannya sebagai ibu bekerja. Bagaimana jantungnya berdebar lebih keras saat ia melangkah menuju ruangan atasannya untuk menyampaikan sebuah kabar bahwa dirinya kehamilan ketiga akan berdampak jangka panjang dengan pengambilan cuti berjangka waktu relatif panjang. Pengalaman yang terjadi belasan tahun lalu ini masih membekas di benak Satia, “Dulu saya takut sekali bercerita kepada bos (bahwa saya-red) sedang hamil.” Ungkap Satia. Padahal mengandung dan melahirkan adalah konsekuensi alami dari kepemilikan alat reproduksi kaum perempuan.

Ketika bekerja di Bank DBS Indonesia, Satia merasakan visi yang sejalan dengannya. Bank DBS Indonesia memiliki prinsip Making Banking Joyful. Dunia perbankan yang umumnya erat dengan sisi serius, justru ingin diubah menjadi menyenangkan. Keceriaan ini berlaku bagi customer maupun staf. “Di situlah kami melihat bahwa karena mau ada keceriaan, maka penting untuk melengkapi perempuan agar bisa menyeimbangkan antara kehidupan pribadi dan profesional,” ujar Satia yang sudah bekerja lebih dari 12 tahun di Bank DBS Indonesia.

Bank DBS global memberlakukan peraturan yang mementingkan kesetaraan gender. Tapi dalam penerapannya, masing-masing negara cabang DBS dibebaskan membuat program dan bentuk fasilitas yang diinginkan. Pengalaman Satia sebagai ibu bekerja sekaligus mengelola sumber daya manusia di berbagai perusahaan, memicunya untuk melengkapi Bank DBS Indonesia dengan beragam fasilitas yang mendukung perempuan. Dari tempat penitipan anak seminggu sebelum dan sesudah Lebaran, ruang laktasi yang memadai di seluruh lantai kantor hingga sistem pengaturan kerja yang fleksibel.

“Dulu saya enggak tenang saat harus meeting padahal anak baru jatuh. Sekarang ada flexi working arrangement. Kalau anak sakit, work from home. Kami punya sistem yang terbuka sehingga karyawan bisa bekerja dari mana saja,” Ujar Satia seraya menambahkan bagaimana kebijakan fleksibilitas jam kerja malah meningkatkan loyalitas dan produktivitas pekerja dengan kantor. Contohnya, staf yang sedang cuti melahirkan namun masih berkenan aktif melayani komunikasi terkait pekerjaan melalui surat elektronik.

Klub Perempuan untuk Pekerja

Satia mengenang awal masa ia membesarkan ketiga anaknya. Perkembangan teknologi dirasa belum mendukung sehingga ia tidak merasakan pengaruh eksternal yang berlebihan dalam mengurus anak. “Saya membesarkan anak seadanya. Bayi umur enam bulan, kasih nasi digiling. Sekarang sudah berbeda. Ibu-ibu muda malah stres lihat di media sosial harus memberi makanan salmon pada anak, salmonnya harus tipe tertentu,” ujar Satia memberi contoh. Bahkan hasil diskusi kelompok terfokus menunjukkan,urusan rumah tangga yang membebani pekerja perempuan Bank DBS Indonesia lebih besar dibandingkan ketakutan akan perkembangan karir mereka. Hasil diskusi ini menginspirasi tim pimpinan Satia untuk membentuk women’s club atau klub perempuan.

“Dua minggu sekali, kita berkumpul. Sebenarnya hanya sharing saja. Ibu-ibu yang berkumpul punya anak dari berbagai umur. Sehingga bisa saling memberi tahu pengalamannya. Ini malah powerful banget,” ujar Satia. Selain ajang berbagi, women’s club juga kerap mengundang pembicara untuk topik-topik tertentu, seperti kepemimpinan, kesehatan atau kecantikan. Menariknya topik-topik yang disodorkan membuat pekerja lelaki turut berpartisipasi.

Bekerja Sebagai Pilihan

Satia mengakui dirinya cukup beruntung memiliki pasangan yang memandangnya sebagai mitra yang setara. “Saya dan suami saya terbuka dengan anak-anak. Mereka juga tahu keputusan dibuat bukan karena ayahnya memutuskan. Tapi ibunya diberi kesempatan menentukan sesuatu,” Ulas Satia yang pernah bekerja selama 14 tahun di JP Morgan.

Meskipun begitu Satia cukup terkejut ketika ketiga anaknya yang semuanya lelaki menginginkan istri yang hanya mengurus rumah tangga. Anak-anaknya masih berpikir bahwa bila perempuan bekerja maka akan disibukkan dengan pekerjaan kantor. “Banyak perempuan sekolahnya sudah tinggi. Buat apa mereka tinggal di rumah? Nanti malah stres. Perempuan harus diberikan kesempatan sama. Setidaknya kalau tidak mau kerja, itu adalah pilihan sadar dari si perempuan,” tandas Satia memberi gambaran makna pilihan berkarir bagi perempuan. Pemikiran tersebut membuat Satia berkeyakinan bahwa seharusnya setiap kantor wajib menyediakan sistem pendukung yang mumpuni bagi ibu bekerja.

Adanya kebijakan fleksibilitas jam kerja bagi ibu bekerja misalnya, berdampak pada penghapusan salah satu faktor penghambat karir pekerja perempuan. Di sisi lain, perusahaan akan merasakan keuntungan yang lebih. Satia memberi contoh tingkat kepuasan karyawan bank DBS Indonesia yang mencapai 88% dan tertinggi di DBS se-Asia Pasifik. “Kita kasih kesempatan berkarir setinggi-tingginya (bagi perempuan). Faktor lingkungan jangan membatasi,” tegas Satia.


Download File