Syaldi Sahude: Lelaki Feminis Wajib Hadir Mendukung Gerakan Perempuan

Syaldi Sahude adalah salah satu co-founder Aliansi Laki-Laki Baru (ALB). Terbentuknya ALB karena munculnya kerisauan sekelompok laki-laki yang ingin membuat perubahan tentang ketidakadilan gender dan melibatkan laki-laki dalam memperjuangkan hak perempuan.

Muncullah sebuah pertanyaan, adakah lelaki yang feminis? Adakah lelaki yang mau merelakan sebagian dari keistimewaan yang telah diperolehnya selama ratusan tahun dan turut berempati kepada perempuan? Jawabannya, ada. Hanya saja masih sangat jarang di dunia di mana patriarki mengakar kuat. Sedangkan definisi lelaki feminis adalah lelaki yang memiliki kepedulian pada lingkungan sekitar, toleransi terhadap perbedaan, punya ketertarikan pada budaya, dan memberikan kebebasan pada pasangan.

Lelaki feminis juga menggunakan bahasa yang positif, mau berbagi kerja domestik, peduli hak reproduksi dan sensitif dalam memenuhi kebutuhan pasangannya saat berhubungan seksual. Mereka juga biasa transparan dalam mengelola keuangan dan antipoligami. Bukan hal mudah ketika seorang lelaki menetapkan diri sebagai feminis. Karena sekali lagi, ini berarti dia bernyali melawan kenyamanan sistem yang menempatkan lelaki sebagai penguasa di segala bidang, terutama keluarga.

Terganggu Patriarki

Syaldi Sahude mulai tertarik menggali isu perempuan ketika berkiprah di dunia aktivisme tahun 2001. “Saya mendampingi paguyuban Mei ’98, Semanggi 1 dan 2. Hal yang mengganggu saya, setiap bikin aksi dan rapat advokasi, peserta yang datang selalu para ibu. Saya bertanya-tanya dalam hati, ini para bapaknya ke mana?” ungkap Syaldi yang sempat menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Filsafat Diyarkara. Syaldi tahu bahwa para bapak yang dimaksud sebenarnya pengangguran, jadi sibuk bekerja tidak bisa dijadikan alasan.

Fenomena partisipasi perempuan yang aktif juga Syaldi amati berlaku di tempat lain, “Saat konflik agama di Ambon, perdamaian dimulai dari pasar yang dibangun oleh para Mama. Mereka harus membangun pasar untuk memenuhi kebutuhan keluarga.” Begitu pula pengalaman Syaldi di Aceh saat para istri menjadi kepala keluarga karena lelaki setempat terpaksa mengungsi ke hutan agar tidak dituduh bagian dari anggota pemberontakan.

Menurut Syaldi, perempuan sering maju ke depan saat situasi tidak enak. Sedangkan dalam suasana yang enak, seperti rapat lingkungan, maka laki-laki yang akan berkuasa. Perkenalannya dengan aktivis di Jurnal Perempuan pun semakin membuka mata Syaldi akan adanya ketidakadilan gender.

Tantangan gerakan laki-laki pendukung isu perempuan

Aliansi Laki-Laki Baru dibentuk pada November 2009. Terobosan ALB sedikit demi sedikit menarik perhatian orang banyak. Tapi ALB memiliki prinsip yang tidak bisa diganggu gugat. Tidak seperti lembaga swadaya masyarakat pada umumnya, ALB tidak mau menerima donor. “Banyak donor mengeluarkan uang untuk isu pelibatan laki-laki pada kesetaraan gender. Tapi dana pasti diambil dari pos pemberdayaan perempuan. Ini yang kami tidak inginkan,” jelas Syaldi.

Sebagai sebuah gerakan, ALB tidak ingin memperkuat stigma bahwa lelaki bertugas melindungi perempuan. Bila ada donor yang ingin memberi dana, maka akan direkomendasikan untuk organisasi perempuan pendukung ALB, “Kami ingin dana tetap dipastikan untuk kepentingan perempuan, meskipun target programnya laki-laki.” ALB ingin menghilangkan kecurigaan bahwa organisasi ini merupakan usaha baru para lelaki menjajah gerakan perempuan.

Ayah ingin dekat dengan anak

Wacana cuti bagi ayah yang istrinya melahirkan pernah digulirkan oleh ALB. Syaldi berpendapat idelanya durasi sebulan diberikan pada para ayah. “Tapi sebelum bicara parental leave, lengkapi dulu skill untuk pengasuhan pada anak,” tegas Syaldi. Dari riset kecil-kecilan ALB, didapatkan bahwa banyak ayah tidak tahu kemampuan dasar merawat anak, seperti ganti popok dan memandikan bayi. “Enggak punya skill itu bukan berarti enggak mau. Mereka mau tapi tidak tahu caranya. Lebih parah lagi karena orangtua lelaki juga malah berkomentar, ‘Itu kan tugas istrimu,’” kata Syaldi. Pada dasarnya kelekatan antara ayah dan anak adalah hal penting buat lelaki.

Ini juga yang membuat Syaldi ingin agar semakin banyak perusahaan membangun daycare. Dia mengambil contoh kasus salah satu rekannya di China yang membangun tempat penitipan anak di sebuah pabrik. “Turnover yang awalnya sampai 40%, turun menjadi 10%. Produktivitas meningkat sampai 40% dan tunjangan kesehatan jauh lebih hemat.” Tidak cuma pegawai perempuan yang butuh kedekatan dengan anak, pegawai lelaki pun butuh dan harus didukung lingkungannya.


Download File