Devi Asmarani: Membumikan Feminisme Melalui Media

Kegelisahan Devi Asmarani sebagai jurnalis perempuan mendorongnya menjadi salah satu co-founder Magdalene.co. Sebuah website magazine yang memiliki misi utama mendobrak patriarki dan mendekatkan isu feminisme kepada khalayak luas.

Perempuan dan media, dua hal yang erat sekaligus saling bermusuhan. Media sering kali menjadikan perempuan sebagai obyek komoditas yang dimanfaatkan oleh industri. Jean Kilbourne, feminis sekaligus pengamat media dari Amerika, mengatakan bahwa iklan yang disebarluaskan di media membantu menciptakan stereotype yang pada akhirnya mempengaruhi tingkat kekerasan terhadap perempuan. Tidak hanya iklan, isi media dengan segmen khusus perempuan pun seringkali tidak merepresentasikan perempuan dengan segala masalahnya atau malah ditulis dari sisi yang maskulin. “Aku ingin menciptakan sesuatu yang issue based, dari perempuan untuk perempuan. Ideanya dari situ. Merepresentasikan pengalaman perempuan in a more inclusive and authentic way. Pengalaman perempuan itu beragam. Otentik. (Tapi-red) The idea of beauty itself sangat didikte oleh media saat ini,” ungkap Devi saat menjelaskan tentang kelahiran Magdalene di bulan September 2013.

Feminisme membumi

Menginjak tahun keempat kelahirannya, Magdalene berhasil menarik perhatian pembaca berusia 25-35 tahun. Segmen umur kedua yang sering membaca Magdalene adalah usia 18-24 tahun. “Ini sesuai dengan target kami. Content kita memang content dewasa. Content kita butuh certain level of curiosity,” ujar pemegang gelar Bachelor of Arts jurusan jurnalisme dari University of North Alabama.

Mengkritisi fenomena sosial dari sudut pandang feminisme dengan cara yang mudah dimengerti orang adalah salah satu strategi utama yang dilakukan Magdalene. Contoh artikel yang dimuat di Magdalene yang telah dibagikan kepada lebih dari 9000 kali di Facebook adalah Dua Hari Menjajal Aplikasi Poligami, Ini Yang Saya Temukan. Seorang reporter Magdalene mengungkapkan pengalamannya menjadi anggota aplikasi Ayo Poligami. Laporan investigasi tersebut berhasil mengungkap bahwa kebanyakan anggota aplikasi ini adalah lelaki. Mereka juga bercerita bahwa istrinya tidak tahu keikutsertaannya di aplikasi yang mendorong users-nya untuk menemukan pasangan poligami ini.

Terbuka untuk Kontributor dan Laki-laki

Ruth Indira Rahayu, peneliti feminis dan salah satu pengajar dalam Kursus Menulis Sebagaimana Perempuan Menulis, pernah menganalisis bahwa salah satu ciri khas perempuan dalam bertutur melalui tulisan adalah dengan mengaitkan fenomena sosial dengan refleksi ke dalam dirinya. Magdalene membuka wadah bagi para kontributor untuk meluapkan keresehannya sebagai perempuan. “Dalam sehari bisa masuk tiga tulisan kiriman kontributor. Kriteria penulisan yang dimuat di Magdalene itu harus sesuai tone dan content spirit Magdalene. Semua tulisan harus melalui proses editorial dan banyak diedit. Magdalene itu web magazine, bukan blog. Kalau tulisan kurang bagus, kita enggak bisa pakai,” jelas Devi.

Salah satu yang cukup mengejutkan, Magdalene ternyata tidak hanya menarik perhatian kaum perempuan. Berdasarkan data Google Analytics, empat puluh persen pembaca Magdalene adalah lelaki. Ini membuka peluang edukasi tentang keadilan gender kepada lelaki. “Di Indonesia ini yang paling susah karena ada aspek budaya. Lelaki dianggap kepala keluarga. Satu-satunya cara perempuan yang sudah berkeluarga bisa berhasil, bukan hanya secara karir tapi juga mencapai kesehatan mental, fisik dan kebahagiaan, adalah ketika dia punya partner yang ikut menanggung beban yang sama,” papar Devi yang berpengalaman sebagai jurnalis selama lebih dari delapan belas tahun.

Melalui Magdalene, Devi berharap bisa mengedukasi masyarakat tentang kesetaraan gender dan menghapus diskriminasi. “Ada calon investor pernah mengkritik kami dan bilang Magdalene (isinya-red) terlalu serius . Ini seperti ayam dengan telur. Media senang karena masyarakat bodoh. Kita terus dicekoki berita-berita yang bodoh sehingga masyarakat makin bodoh. Kamu sebagai investor masak mau investasi di kebodohan?” ucap Devi sambil tertawa menutup interview.