Kampanye


IBCWE memiliki beberapa kegiatan kampanye tahunan, yaitu Hari Perempuan Internasional, Hari Ayah Nasional, 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, dan Hari Perempuan Nasional (Hari Ibu).

Hari Perempuan Internasional

Pada tahun 1977, Hari Perempuan Internasional diresmikan sebagai perayaan tahunan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memperjuangkan hak perempuan dan mewujudkan perdamaian dunia.

Hari Ayah Nasional

Dikutip dari Harian Kompas, 10 Oktober 2006, gagasan Hari Ayah Nasional datang dari Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi Solo. Saat itu, penyebutannya Hari Bapak Nasional. Deklarasi Hari Bapak Nasional dilakukan pada 12 November 2006 di Kota Solo, Jawa Tengah, Indonesia. Hari Bapak dipandang perlu karena bapak merupakan bagian dari keluarga yang tidak boleh diremehkan perannya. 

IBCWE juga melihat bahwa peran ayah dalam rumah tangga dan pengasuhan menjadi salah satu misi dalam mewujudkan kesetaraan gender. Peran dan pengasuhan yang setara antara ayah dan ibu dalam keluarga memungkinkan anak memiliki pilihan yang lebih beragam terhadap karier, serta mendukung ibu untuk tetap berada di angkatan kerja.

16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Di Indonesia, Komnas Perempuan menjadi inisiator dari kegiatan ini. Setiap tahunnya, kegiatan ini berlangsung dari tanggal 25 November yang merupakan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan hingga tanggal 10 Desember yang merupakan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional. 

IBCWE turut serta dalam mendukung gerakan ini melalui beberapa  kegiatan, yaitu:

Hari Perempuan Nasional (Hari Ibu)

Hari Ibu di Indonesia ditetapkan pada tanggal 22 Desember setiap tahunnya. Hal ini berkaitan dengan penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia I pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres ini diikuti oleh lebih dari 600 orang perempuan dari berbagai latar belakang untuk memperjuangkan hak-hak perempuan.

Tetapi seiring berjalannya waktu, makna tersebut bergeser menjadi sebuah hari penghormatan terhadap jasa ibu ataupun istri yang sudah berjuang melakukan pekerjaan domestik dan merawat keluarga. Pada 22 Desember 2019, pemerintah, organisasi, dan aktivis ingin mengembalikan makna pergerakan perempuan di Hari Ibu dengan mengangkat berbagai isu, termasuk pendidikan, politik, bisnis, dan kesehatan.

IBCWE turut serta dalam pengembalian makna pergerakan perempuan melalui berbagai kegiatan, yaitu: