Jalur Keberlanjutan Ekonomi: Perempuan Indonesia dalam Angakatan Kerja

Covid-19 menyebabkan krisis ekonomi terbesar di dunia sejak Perang Dunia ke-2. Indonesia tidak terkecuali. Pandemi ini telah menempatkan perempuan dalam kondisi yang tak menguntungkan. Kebijakan work from home  (WFH) seakan menambah beban ganda yang dipikul perempuan.

Dalam Webinar SAFE 2020 Forum bertajuk “Economic Sustainability Pathway; Indonesia Women in the Workforce” yang digelar Katadata.id pada hari Jumat (28/8), Counsellor Australian Embassy, Todd Dias mengatakan, “ditambah dengan adanya pandangan dan norma sosial bahwa perempuan adalah pengasuh utama dalam keluarga, membuat perempuan bekerja harus bekerja lebih giat dalam mengurus pekerjaannya dan keluarga.”

Lebih dari 60% responden laki-laki dan perempuan percaya, perempuan lebih baik dalam kerja rumah tangga. "Persepsi ini membuat sulit untuk memastikan tanggung jawab rumah tangga dapat dibagi rata. Perempuan juga harus bisa let go Covid-19 membuat beban domestik meningkat dan sebagian besar ditanggung perempuan," kata Maya Juwita, Executive Director, Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE).
Penelitian menunjukkan resesi dan pandemic Covid 19 telah memperbesar dampak bagi perempuan baik dari sisi keamanan ekonomi, pekerjaan, representasi politik hingga Kesehatan. Sektor yang didominasi perempuan seperti pariwisata, retail, penjualan, manufaktur terpukul parah selama masa PSBB. 

Ada beberapa pelajaran dari Covid-19 yang perlu dipertimbangkan sektor swasta agar perusahaan bisa mempertimbangkan kebijakan waktu kerja fleksibel secara permanen dan meningkatkan peluang untuk mempertahankan talenta perempuan yang terpaksa meninggalkan dunia kerja karena tanggung jawab rumah tangga dan bahkan menarik kembali talenta perempuan ke angkatan kerja.

Berdasarkan survey bekerja dari rumah yang dilakukan IBCWE, hampir 80% karyawan merasa sama atau lebih produktif selama krisis dan sebagian besar kegiatan bekerja dari rumah (WFH) diterapkan. Sebanyak 36% responden merasa dampak negatif terhadap kesehatan mental dan hampir seperempat responden melaporkan Covid-19 berdampak negatif terhadap kesehatan fisik. "Kekhawatiran kana situasi 75% dan masalah keuangan 68% adalah masalah utama terhadap kesehatan mental.

 

Kesetaraan Gender di Perusahaan

Dalam sesi SAFE Forum 2020, hadir juga perwakilan dari 2 (dua) perusahaan yang berbagi cerita dan programnya dalam mendukung gender quality.

Perusahaan produsen ban PT Gajah Tunggal Tbk sudah memperoleh EDGE Certification pada tahun 2018, sebuah metodologi penilaian dan standar sertifikasi bisnis untuk kesetaraan gender, sebagai upaya pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs.

Meski begitu, Executive Vice President Gajah Tunggal, Catharina Widjaja mengakui sulit mengimbangi komposisi karyawan perumpuan di lingkup perusahaan, khususnya di lokasi pabrik karena memang situasi sosial pabrik masih kurang mendukung. Sehingga karyawan perempuan biasanya ditempatkan di kantor pusat, manajemen atau retail.
Danone Indonesia juga sangat mendukung kesetaraan gender, didukung adanya pilar keragaman inklusif perusahaan secara global. Yang mana targetnya, ada 30 persen perempuan di level eksekutif dan 42 persen level direktur perseroan.

Danone juga mendukung tiga komitmen, yaitu perusahaan yang parent-friendly, meningkatkan inklusi perempuan dan mobilisasi perusahaan lain untuk menambah kesetaraan gender.

Menurut Lany Harijanti, Indonesia Country Program Manager Global Reporting Initiative, pelaporan isu gender di dalam sustainability report di Indonesia masih terbatas pada komposisi jumlah karyawan perempuan dan laki-laki didalam perusahaan.  Belum banyak upaya sistematis yang dilakukan untuk memperbaiki kondisi kesetaraan gender di dalam perusahaan.  Oleh karenanya ketika perusahaan melakukan upaya lebih untuk kesetaraan gender di dalam perusahaan, melakukan diagnosa awal seperti menggunakan Gender Equality Assessment Result and Strategies (GEARS) akan memberikan potret atau gambaran yang nantinya akan membantu pada saat penyiapan sustainability report di akhir tahunnya.

“Sehingga jauh lebih tajam dan memudahkan buat perusahaan untuk mengkomunikasikan secara strategis apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan dilakukan,” jelasnya.

Dari hasil riset dan survey yang telah dilakukan oleh IBCWE dan mitra-mitranya, secara konsisten menunjukan pengaruh pandemi terhadap kondisi keterlibatan perempuan di dunia kerja.  Namun kondisi ini juga memberikan peluang terhadap penerapan flexible working arrangement di dunia bisnis di Indonesia, yang akan memberikan kesempatan bagi perempuan untuk bisa tetap bekerja walaupun telah menjadi seorang ibu, bahkan kembali ke dunia kerja bagi para perempuan yang sebelumnya terpaksa meninggalkan dunia kerja karena adanya tanggung jawab domestic yang masih menjadi beban ganda bagi perempuan. 

Di Tanah Air, riset International Labour Organization (ILO) berjudul “Leading to Success: The business case for women in business and management in Indonesia”, menyebutkan, sudah mulai banyak perusahaan (77 persen) yang percaya bahwa kesetaraan gender memberi keuntungan.

Beberapa perusahaan yang menjadi panelist di hari ini telah menunjukan bahwa upaya kesetaraan gender di dunia kerja bisa dilakukan secara sistematis oleh industri apapun, termasuk male-dominated industry. Upaya tersebut juga hendaknya didokumentasikan secara baik di dalam sustainability report agar transparan dan dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain. Sudah saatnya pembicaraan mengenai isu kesetaraan gender beranjak dari isu social dan dibawa ke ranah bisnis dengan memberikan business case bahwa berinvestasi terhadap upaya kesetaraan gender di dunia kerja akan berdampak positif terhadap kinerja perusahaan.