Peran Bisnis di Tujuan 5 SDGs

Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) bekerja sama dengan Harian Umum Kompas menggelar diskusi bertema “2 Tahun SDGs: Peran Bisnis dalam Kesetaraan dan Pemberdayaan Perempuan”. Kegiatan digelar untuk menandai dua tahun komitmen global mewujudkan pembangunan berkelanjutan atau lebih dikenal dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang jatuh pada akhir September.

Diskusi menghadirkan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro sebagai pembicara utama, CEO Sintesa Grup Shinta Kamdani, Presiden Direktur Wiwiek Santoso, Direktur Teknologi XL AXIATA Yessie D. Yosetta, Sanjay N. Bharwani, SEVP Human Capital Bank Mandiri, dan Sujatmiko, Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan, Kemenko PMK RI.

Shinta Kamdani, selaku Pembina IBCWE dan salah satu pembicara panel dalam diskusi ini, menggaris-bawahi peran penting sektor bisnis dalam pencapaian SDG, terutama dalam pencapaian Tujuan 5, Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan. Lebih lanjut Shinta menyatakan bahwa “Berdasarkan data BPS, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan berkisar 51%, ini artinya masih besar potensi kontribusi perempuan bagi ekonomi dan pembangunan Indonesia. Peran sektor swasta untuk mewujudkan potensi ini menjadi sangat penting.”

Diskusi membahas tantangan pencapaian Tujuan 5 SDGs (Kesetaran Gender dan Pemberdayaan Perempuan), bentuk-bentuk kontribusi sektor bisnis dalam pencapaian SDGs Tujuan 5, serta langkah-langkah yang menunjang sinergi antara Pemerintah, Perusahan dan Masyarakat Sipil demi pencapaian target SDGs Tujuan 5.

Untuk beberapa tujuan dari 17 tujuan SDGs, Indonesia menunjukkan capaian yang masih tertinggal dibanding negara-negara lain bahkan untuk kawasan Asia Tenggara. Data dari SDG Index dan Dashboard 2017 menunjukkan, berdasarkan peringkat tantangan semua tujuan SDGs, Indonesia berada di posisi 100 dari 157 negara. Khusus untuk Tujuan 5 (Kesetaraan Gender), Indonesia memiliki nilai indeks 59,3 dari total nilai 100. Indeks ini masih lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga ASEAN seperti Filipina (ranking 93, Index Tujuan 5: 64,5), Vietnam (68; 76.4) dan Thailand (55; 65.7). Sementara laporan kesenjangan gender global 2016 dari World Economic Forum mencatat Indonesia berada di peringkat ke-88 dari 144 negara. Asesmen laporan dilakukan berdasarkan bagaimana negara-negara tersebut mengelola tenaga kerja perempuan dari indikator ekonomi, pendidikan, kesehatan dan politik.

Direktur Eksekutif IBCWE, Dini Widiastuti, menyampaikan pandangannya tentang kesetaraan gender yang tidak hanya terkait dengan Tujuan Lima tetapi juga dengan tujuan-tujuan lain di SDGs. Menurut Dini, “Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan bukan hanya merupakan salah satu tujuan SDG, tapi juga merupakan syarat mutlak bagi pencapaian keenambelas Tujuan SDG yang lain.”.

Pemerintah melalui Bappenas menyatakan, kesetaraan gender akan memperkuat kemampuan negara untuk berkembang, mengurangi kemiskinan, dan memerintah secara efektif. Dengan demikian mempromosikan kesetaraan gender adalah bagian utama dari strategi pembangunan dalam rangka untuk memberdayakan masyarakat (semua orang)-perempuan dan laki-laki-untuk mengentaskan diri dari kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup mereka. Lalu apa peran dan sejauh mana kontribusi perusahaan di Indonesia dalam mewujudkan komitmen Tujuan 5 SDGs.

Sektor bisnis memiliki peran kunci menjadi akselerator pencapaian SDGs khususnya pada Tujuan 5 khususnya ditengah beragam tantangan untuk meraih capaian kesetaran gender dan pemberdayaan perempuan. Salah satunya adalah angka partisipasi di sektor formal di Indonesia dimana tenaga kerja perempuan mencapai 49%, sedangkan laki-laki 83% (Bank Dunia, 2015). Badan Statistik Nasional merilis laporan bahwa hanya 5 – 10% perempuan berada di tingkat tinggi manajemen perusahaan.