Diversity in STEM – IBCWE bersama dengan Telkomtelstra Adakan Campus Visit

Sebagai salah satu upaya kampanye women in STEM (science, technology, engineer dan math), IBCWE bersama Telkomtelstra melakukan campus visit bertema Diversity in STEM. Rangkaian dimulai dengan mengunjungi Universitas Bina Nusantara (Binus) pada 14 Oktober. Menghadirkan Maya Juwita, Direktur Eksekutif IBCWE, Dhany Soepardi, Service Solutions Architect di IGDC sekaligus alumi Binus, serta Nike Garnia, VP HR Telkomtelstra.

Maya Juwita menyampaikan, di Indonesia saat ini, terdapat 80% laki-laki yang ada di sektor formal, sedangkan hanya 52% perempuan ada di sektor formal, sisanya ada di sektor informal atau menjadi ibu rumah tangga. Dalam keadaan seperti ini, terdapat kerugian ekonomi bagi negara. Di industri STEM, masih sering terjadi bias gender. Lowongan yang dibuka rata-rata untuk laki-laki, perempuan yang ingin masuk pun takut didiskriminasi. Ini menyebabkan sedikitnya role model perempuan yang bekerja di bidang STEM.

Menurut Nike Garnia, di Telkomtelstra karyawan perempuan di bagian technical masih cenderung sedikit, hanya 20% saja. Karena itu Telkomtelstra mendorong perempuan untuk lebih banyak terjun ke STEM. Langkah-langkah yang diambil adalah dengan tidak membedakan gender mulai dari proses rekruitmen untuk semua bidang pekerjaan. Harus ada perempuan dan laki-laki di setiap proses, dan kualitas yang akan menentukan siapa yang berhak lolos nantinya. Di Telkomtelstra juga terdapat program Billion Connected Women, yaitu kegiatan untuk sharing, khusunya perempuan, untuk mendukung di berbagai aspek.

Dhany Soepardi bercerita bahwa tantangan perempuan di bidang STEM memang ada. Salah satunya harus siap 24 jam jika ada masalah yang harus diselesaikan, hingga dianggap sebelah mata karena dia adalah seorang perempuan. Namun dengan kerja keras dan usaha, Dhany mampu membuktikan bahwa perempuan dapat sukses di bidang STEM.

Rangkaian acara juga dilanjutkan di Bandung, dengan mengunjungi Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 16 November, dan Telkom University pada 17 November. Sebagai pembicara, selain Maya Juwita, Djauhari Nurachman, VP Product Management Network and Security Telkomtelstra serta alumni Telkom University, dan Revana Hadiani, IT Business Analyst serta alumni ITB.

Di Bandung, Maya Juwita mengatakan, partisipasi perempuan untuk belajar di bidang STEM cukup tinggi, namun tidak sebanding dengan angkatan kerja. Industri STEM yang didominasi laki-laki seringkali membuat perempuan sulit berkembang. Padahal pekerjaan di bidang teknologi dapat menunjang fleksibilitas bagi perempuan. Perempuan pun juga harus memiliki keyakinan bahwa dia mampu bekerja di bidang STEM dan tidak mudah menyerah.

Revana Hadiani mengakui, pilihannya masuk ke jurusan IPA karena ditantang orangtuanya. Namun, saat sudah bekerja di Telkomtelstra, dia dapat merubah mindset bahwa perempuan juga memiliki kemampuan dan keahlian yang sama dengan laki-laki. Revana menekankan perlunya perempuan dilatih untuk selalu berpikiran positif terhadap semua hal, termasuk tantangan, serta jangan ragu dan percaya diri untuk saat melamar pekerjaan di industri STEM.

Menurut Djauhari Nurachman, untuk masuk ke dunia kerja, perempuan dan laki-laki harus memiliki standar yang sama, memiliki pemikiran yang kreatif, dan di luar kebiasaan yang selama ini menjadi ukuran agar bisa bersaing di dunia kerja. Memasuki dunia kerja, di bidang apapun, harus dapat berpikir ke depan dan mengasah pengetahuan sehingga dapat menjadi tenaga kerja yang potensial dan siap dengan segala tantangan. (admin)