Women’s Empowerment Working Group Multi-Stakeholder IV - “Advancing Women’s Empowerment Achieving Business Goals”

Women's Empowerment Working Group (WEG) yang diinisasi IBCWE bersama dengan IGCN dan UN Women mengadakan forum diskusi yang ke empat. Dengan tema “Advancing Women’s Empowerment Achieving Business Goals”, forum diskusi dilaksanakan pada 28 Agustus 2019 di Universitas Bina Nusantara (BINUS) Jakarta. Dibuka oleh Andyni Khosasih, Community Development Center – Teach for Indonesia Manager, BINUS, menyampaikan bahwa BINUS berkomitmen dengan kesetaraan gender. Salah satu wujudnya adalah adanya peningkatan jumlah perwakilan perempuan di Dewan Direktur BINUS.

Pembukaan kedua oleh Head of UN Women Indonesia, Ruangkhao Chanchai, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki kesenjangan gender lebih tinggi 30% daripada negara Asia Tenggara lain. Banyak perempuan belum terwakilkan pada posisi manajerial, dan untuk mendukung pemberdayaan perempuan diperlukan komitmen CEO kepada WEPs.

Pada sesi diskusi yang dimoderatori oleh Direktur Eksekutif IBCWE, Maya Juwita, diundang sebagai panelis adalah CFO Telkomtelstra, Ernest Vincent Hutagalung; Senior Partner Hadiputranto Hadinoto & Partner (HHP), Mita Guritno; serta Dosen BINUS dan Pendiri Aksi Nusantara, Frans Bona Simanjuntak.

Ernest Vincent Hutagalung menyampaikan bahwa partsipasi perempuam di bidang Science, Technology, Engineering and Math (STEM) secara global masih berada pada level 20%. Telkomtelstra memberikan kesempatan yang sama pada perempuan untuk berkarir di bidang STEM. Selain itu Telkomtelstra juga menyediakan ruang laktasi dan flexible working hours yang membuat efek baik, seperti kenaikan 6% pekerja perempuan serta kenaikan 9% pada penggunaan teknologi. Namun hal ini masih jauh dari target partisipasi pekerja perempuan sebesar 30%.

Di HHP, Mita Guritno menyampaikan mendukung peraturan nasional dan internasional terkait kesetaraan gender. Salah satunya adalah mendorong perempuan pada level manajerial hingga 40%. HHP juga mendorong laki-laki untuk lebih terlibat dalam isu, karena kesetaraan gender bukan hanya untuk perempuan namun juga laki-laki. Di HHP terdapat kebijakan seperti Young Mom Program, paternity leave, serta konseling untuk mendukung kesehatan mental bagi pekerjanya.

Frans Bona Simanjuntak, menceritakan pengalamannya ketika bekerja di private sector, dilihat dari permukaan, tidak nampak diskrimasi pada perempuan. Namun, jika dilihat lebih mendalam diskriminasi terjadi seperti pada pegawai outsource, mereka tidak mendapatkan benefit yang sama dengan pekerja tetap.

Kesetaraan gender membawa keberagaman dalam proses pengambilan keputusan, hal ini dapat membawa inovasi kepada penyelesaian masalah. Perusahaan harus menyadari kontribusi keberagaman dari pengambilan keputusan membawa banyak keuntungan. Hal ini dapat tercapai jika pada level pengambil keputusan terjadi keberagaman. Jumlah keterwakilan perempuan paling sedikit 30% pada level tersebut. Dari kompisisi tersebut nantinya akan dapat menghasilkan keputusan yang memaksimalkan pencapaian tujuan perusahaan. (admin)