Apa Pemicu Terjadinya Queen Bee Syndrome di Tempat Kerja?

Foto dari Pixabay

Fenomena kepribadian seorang perempuan yang memiliki posisi atau jabatan tinggi dalam lingkungan kerja yang didominasi laki-laki kemudian memperlakukan kolega atau bawahan perempuannya lebih kritis sering kali disebut dengan Queen Bee Syndrome1. Tidak hanya itu, seseorang dengan sindrom ini juga cenderung melakukan diskriminasi kepada perempuan yang memiliki posisi atau jabatan lebih rendah.

Beberapa opini menyebutkan sindrom ini mungkin sebuah bawaan yang didapat sejak lahir, tetapi menurut konselor di Personal Growth, Ghianina Armand, BSc, MSc2, kemungkinan besar Queen Bee Syndrom muncul karena dipengaruhi lingkungan kehidupan. Seperti pengalaman hidup hingga pengalaman pekerjaan yang membuat seseorang memiliki karakter dan perilaku seperti itu.

Pendapat tersebut dikuatkan juga oleh Naomi Ellemers, seorang profesor dari Universitas Utrecht di Belanda telah meneliti ketidaksetaraan gender di tempat kerja selama 20 tahun. “Para perempuan yang punya pengalaman tinggi tahu betul bahwa dirinya harus menunjukkan komitmen luar biasa untuk berhasil. Ini membuat mereka kurang yakin bahwa perempuan lain mampu berbuat hal sama,” ungkapnya. 

Para peneliti juga menjelaskan bahwa Queen Bee Syndrome sering disalahartikan dan dapat berdampak negatif pada inisiatif untuk membantu perempuan di dunia kerja. Sindrom ini bukanlah penyebab, melainkan konsekuensi dari diskriminasi gender yang terus berlaku di dunia kerja. Salah satu sosok yang digambarkan mengalami Queen Bee Syndrome adalah Margaret Thatcher, Perdana Menteri perempuan pertama Inggris. Margaret diketahui tidak mempromosikan karier perempuan lain di kabinetnya.

Apa pemicu sebenarnya Queen Bee Syndrome?3

Menurut Ellemers untuk memecahkan masalah Queen Bee Syndrome ini tidak dapat diselesaikan dengan memperbaiki perempuan saja, tetapi memperbaiki lingkungan kerja dengan meminimalisasi bias dan diskriminasi gender serta meningkatkan inklusivitas. Di sisi lain, pentingnya memberikan apresiasi pada kesuksesan perempuan dalam kariernya dan juga membantu perempuan lainnya untuk berkembang.

Seperti kata pepatah, “you can always tell who the strong women are. They are the ones you see building one another up, instead of tearing each other down.”

Referensi:

1 Didefinisikan oleh psikolog di University of Michigan, G.L. Staines, T.E. Jayaratne, dan C. Tavris. 1973

2 Ask the Expert, Queen Bee Syndrome di Dunia Kerja Berbahaya Kah. Kumparanwomen.com. 16 Desember 2019. 22 September 2022. https://kumparan.com/kumparanwoman/ask-the-expert-queen-bee-syndrome-di-dunia-kerja-berbahaya-kah-1sSBrkSrXDx/full

3 Queen Bees Still Exist but It’s Not the Women We Need to Fix. Forbes.com. 31 Agustus 2020. 12 September 2022. https://www.forbes.com/sites/kimelsesser/2020/08/31/queen-bees-still-exist-but-its-not-the-women-we-need-to-fix/?sh=7083d0476ffd

4 Banyak Dialami Oleh Perempuan Karier, Apa itu Queen Bee Syndrome. 3 September 2021. 12 September 2022. https://www.parapuan.co/read/532871438/banyak-dialami-oleh-perempuan-karier-apa-itu-queen-bee-syndrome

5 Queen Bee Syndrome, Saat Kamu Mengganggap Kehadiran Perempuan Lain Sebagai Ancaman. 16 Agustus 2021. 12 September 2022. https://www.beautynesia.id/life/queen-bee-syndrome-saat-kamu-mengganggap-kehadiran-perempuan-lain-sebagai-ancaman/b-235933


12 September 2022

Tiara Tri Hapsari