Pemikiran Zero-Sum Menghalangi Laki-Laki Terlibat Dalam Mewujudkan Kesetaraan Gender

Photo by Gladson Xavier from Pexels


Kesetaraan gender bukan zero-sum. Menurut definisi, zero-sum adalah pemikiran di mana ada sisi yang menang dan kalah pada satu situasi. Hasil yang saling menguntungkan tidak pernah dipertimbangkan. Dalam hal kesetaraan gender, bias zero-sum menghalangi laki-laki untuk terlibat dalam percakapan dan perilaku mendukung kesetaraan gender karena mereka mempercayai bahwa jika mereka terlibat, ruang bagi laki-laki akan lebih sedikit dan ruang bagi perempuan akan lebih besar di tempat kerja.

Bias zero-sum ini berbahaya bagi perkembangan perempuan dan juga berbahaya bagi kesehatan mental laki-laki. Berdasarkan penelitian Zero-sum Gender Beliefs (ZSGB) yang dilakukan oleh Joel Y. Wong, Elyssa M. Klann, Nataša Bijelic, dan Fransisco Aguayo di Chili dan Kroasia, semakin tinggi skor ZSGB maka semakin besar tekanan mental yang dirasakan oleh laki-laki. Sementara itu, semakin rendah skor ZSBG menunjukkan semakin tingginya tingkat partisipasi laki-laki pada pekerjaan domestik, semakin tinggi kepuasan hubungan dengan pasangannya dan laki-laki merasakan tekanan mental yang lebih rendah.

Selain itu, ada manfaat nyata bagi organisasi untuk mencapai kesetaraan gender. Bisnis menikmati peningkatan profitabilitas dan pengembalian ekuitas, produktivitas, dan inovasi, kemampuan yang lebih besar untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik, serta keuntungan pendapatan. Menurut survei yang dilakukan oleh Accenture, ketika perempuan naik ke kursi kepemimpinan, kemungkinan laki-laki untuk naik ke tingkat manager adalah 23 persen dan ke tingkat senior/direktur adalah 118 persen.

Empat tindakan untuk mengatasi pemikiran dan perilaku zero-sum di dalam organisasi

  1. Mengukur kesetaraan gender dengan keuntungan ekonomi bagi perusahaan. Bawa bukti yang dapat menunjukkan bahwa laki-laki juga mendapatkan manfaat ketika perempuan disertakan secara penuh dan setara di semua tingkat kepemimpinan. Penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan keterampilan interpersonal yang diperoleh oleh laki-laki ketika mereka menjadi bagian dari organisasi yang beragam dan inklusif.
  2. Mengaitkan metrik keberagaman dan inklusif dengan penilaian kinerja. Penerapan standar metrik keberagaman dan inklusif akan memainkan peran penting dalam menutup kesenjangan gender. Metrik ini perlu dilakukan di setiap tahapan dalam siklus hidup pekerja dan di setiap langkah karirnya dalam perusahaan. Selain itu, laporan keberagaman tahunan harus transparan dan bisa diakses oleh setiap pekerja.
  3. Mendorong peluang pengembangan untuk meningkatkan kecerdasan gender, empati, dan kepercayaan diri ke atasan atau divisi Sumber Daya Manusia. Dengan meningkatkan kesadaran akan pengalaman dan tantangan perempuan di tempat kerja maka bias zero-sum lebih mungkin untuk diatasi serta rasa empati lebih mungkin tumbuh ke sesama rekan kerja.
  4. Mencari sosok Male Fellow. Dibutuhkan #LelakiTurutSerta untuk mulai bicara tentang kesetaraan gender, mengubah perspektif mereka terkait zero-sum serta melakukan mentorship atau sponsorship kepada pekerja perempuan yang berpotensi.

Dibutuhkan semua pihak untuk mewujudkan kesetaraan gender – perempuan, laki-laki, komunitas, perusahaan, hingga negara. Kesetaraan gender menginginkan perempuan dan laki-laki untuk bekerja sama agar dapat memberikan keuntungan bagi keduanya. Sebab, ketika perempuan maju maka laki-laki juga maju.


Referensi:

“When She Rises, We All Rise”. accenture.com. 2018. 9 Mei 2022.  https://www.accenture.com/_acnmedia/pdf-73/accenture-when-she-rises-we-all-rise.pdf

“Gender Equality Is Not Zero-Sum”. hbr.org. 31 Desember 2020.  9 Mei 2022. https://hbr.org/2020/12/gender-equity-is-not-zero-sum


9 Mei 2022

Tiara Tri Hapsari