Dukung Karyawan Perempuan Berarti Mendukung Kemajuan Perusahaan

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels


Keberagaman dan inklusivitas dalam perusahaan akan memperkaya opini dan sudut pandang di dalamnya, hal ini akan menguntungkan perusahaan dengan banyaknya solusi dan inovasi yang bisa ditawarkan. Hal serupa diungkapkan oleh Puni A. Anjungsari, Country Head of Corporate Affair Citi Indonesia pada diskusi bertajuk Enough with Business Case and Start with Sponsorship: Advancing Women into Leadership di Jakarta, pekan lalu.

“Buat kita di Citi Indonesia, keberagaman dan inklusivitas sudah menjadi moto kami. Hal ini bahkan sudah terintegerasi dalam strategi perusahaan bagaimana memajukan karyawan perempuan untuk mencegah terjadinya kebocoran talenta,” ungkap sosok yang akrab disapa Ibu Puni ini.

Hal ini pun dibuktikan lewat komposisi perusahaan. Puni menjelaskan bahwa saat ini perempuan menempati posisi persentase 59% dan sebanyak 38% masuk ke middle management. Keterwakilan ini juga harus tercermin di level paling atas, yaitu Board of Director atau BOD.

Ada banyak kebijakan yang bisa dilakukan oleh perusahaan untuk mendukung pemimpin perempuan. Salah satunya sponsorship, sponsor adalah semacam hubungan membantu di mana orang-orang senior dan kuat menggunakan pengaruh pribadi mereka untuk berbicara, mengadvokasi dan menempatkan orang yang lebih junior dalam peran kunci. Program ini berbeda dengan mentorship, di mana mentor adalah seseorang yang memiliki pengetahuan dan akan membagikannya dengan Anda sedangkan sponsor adalah orang yang memiliki kekuatan dan akan menggunakannya untuk Anda.

Salah satu yang berhasil menerapkan kebijakan ini adalah PT Adis Dimension Footware, Margaret Vikta mencapai posisi President Director berkat program atau kebijakan sponsorship tersebt. Ibu yang akrab disapa Vikta ini mengatakan, dirinya terpilih dan mendapatkan kesempatan untuk dipersiapkan sebagai pemimpin.

“Saya masih ingat 7 tahun yang lalu posisi saya masih sebagai Product Creation Director. Pak Harijanto (President Director pada saat itu) pernah bilang bahwa saya harus mempersiapkan diri suatu saat nanti menjadi pemimpin Adis. Beliau tidak hanya memberikan mentorship saja tapi juga advokasi agar saya bisa menjadi seorang pemimpin,” ungkap Vikta.

Vikta menuturkan, ada beberapa aspek yang dilihat oleh Sponsor kepada Sponsee untuk menjadi pemimpin yaitu kemampuan bekerja, strategic thinking, dan komitmen. Selain itu, tambahnya, perempuan juga harus memiliki pemikiran yang luas dan mendalam, pengalaman yang beragam, juga eksposur yang luas.

Program sponsorship juga bisa diawali dengan program mentorship terlebih dahulu untuk mendorong potensi para perempuan untuk berkarir. Hal ini, tambah Vikta, mentorship tidak hanya mengenai pekerjaan, tapi juga untuk meningkatkan kepercayaan diri para pekerja perempuan.

Citi Indonesia juga sudah menjadikan program mentorship menjadi budaya di perusahaan tersebut, mulai dari konsultasi karir hingga personal seperti proyek “maternity matters” untuk berbagi seputar kehidupan ibu atau keluarga yang baru memiliki anak.

“Citi sudah meluncurkan Mentorship Program. Perempuan di posisi senior bisa ada karena perempuan lain yang melatih mereka, maka perlu untuk giving back. Tidak hanya mentee yang maju, namun juga mentor,” lanjut Puni.

Kebijakan yang mendukung pemberdayaan perempuan juga sudah menjadi komitmen dari banyak perusahaan di berbagai industri, termasuk perusahaan-perusahaan yang didominasi oleh laki-laki. PT Waskita Karya (Persero), Tbk. Juga sudah melakukan inisiatif dalam permberdayaan pekerja perempuannya. “Saat ini ada beberapa komunitas di Waskita Holding seperti komunitas perempuan, komunitas milenial, dan komunitas daya saing global. Dan kami memiliki lima kunci utama untuk mengembangkan potensi yaitu knowledge, skill, attitude, ability, dan empowerment,” papar Subkhan, Senior Vice President of Quality, Health, and Safety Environment PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Subkhan juga menuturkan, meski pandangan orang bahwa bidang konstruksi adalah laki-laki, namun pada kenyataannya sudah ada kebih dari 15-20 persen komposisi perempuan yang berada di lapangan. Hal ini, tambahnya, membantu keseimbangan kecepatan produksi dan controlling system di dalam perusahaan.


4 Januari 2022

Fellicca P. Madiadipura