Hari Perempuan Internasional, Gerbang Pembuka

Preseden buruk seringkali hinggap pada perempuan di lingkungan kerja. Sebagai pihak yang digariskan untuk menjadi seorang Ibu, perempuan seringkali dipandang sebelah mata di lingkungan kerja professional karena dianggap tidak akan mampu membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Hal ini diperburuk dengan pola pikir patriarki yang masih kuat mengakar di Indonesia serta masih menganggap bahwa sebaik-baiknya perempuan adalah perempuan yang tinggal di rumah mengurus keluarga dan urusan domestik. Munculnya stereotype seperti perempuan lemah, takut mengambil resiko, terlalu memakai perasaan membuat citra perempuan kurang pas sebagai pemimpin dan pada akhirnya membuat karir perempuan terhambat.

Menteri Keuangan dan Perekonomian, Sri Mulyani, dalam IMF Summit di Bali 2018 lalu mengatakan bahwa kita bersama-sama harus mendorong perempuan dalam ekonomi dan pemberdayaan perempuan di dunia kerja. Untuk itu pemerintah perlu mendorong pelaku bisnis agar memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan, menghapuskan glass ceiling bagi perempuan mencapai karir yang tinggi. Dari sisi pemerintah sendiri juga diharapkan mampu memberi landasan aturan yang tepat sesuai dengan kebutuhan perempuan, seperti adanya ruang laktasi dan aturan kebijakan untuk pelaku bisnis mengukuhkan langkahnya di Hari Perempuan Internasional. "Tanpa adanya bantuan dari kebijakan yang dapat meringankan beban para wanita, maka menggaungkan kesetaraan gender dalam angkatan kerja akan menjadi sangat sulit," kata Sri Mulyani.

Contoh kebijakan pemerintah yang masih timpang dapat kita lihat dalam sulitnya perempuan mendapatkan pinjaman dana untuk modal usaha. Pertanyaan mengenai surat nikah dan aset yang dimiliki suami masih sering diterima seolah-olah perempuan harus selalu didukung laki-laki untuk dapat berdikari. Pemikiran yang patriarki ini tentu saja menghambat berkembangangnya wanita sebagai pemimpin usaha di Indonesia.

Dalam kajian SNAP 2018, Investing in Women (proyek regional yang didanai oleh Pemerintah Australia) memaparkan bahwa perempuan di Indonesia menunjukkan minat sebesar 48% persen untuk bekerja agar menjadi bisa mandiri secara ekonomi, 24% perempuan bekerja untuk berkontribusi bagi keluarganya, dan 18% perempuan bekerja untuk memenuhi kepuasan diri. Hal ini menunjukkan perempuan di Indonesia, khususnya di area urban, menganggap bekerja tidak semata-mata membuat dirinya mandiri secara ekonomi namun untuk aktualisasi dan pengembangan diri serta keluarga yang pada akhirnya akan membuat perempuan memiliki nilai tambah dan bisa berkontribusi tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga lingkungannya. Perempuan juga memiliki keinginan besar untuk maju dan bahkan menduduki posisi puncak dalam dunia profesional.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Avon terhadap 14.000 perempuan di 15 negara di seluruh dunia. Hanya 48% perempuan merasa puas dengan pekerjaan mereka. Namun hal baiknya, bagi sebagian besar perempuan yang memiliki pekerjaan merasa pekerjaannya tidak hanya memberikan manfaat keuangan tetapi lebih besar dari itu, mereka menerima manfaat pribadi. Sebanyak 77% mengatakan pekerjaannya meningkatkan kepercayaan diri akan kemampuan dirinya, 76% mengatakan pekerjaannya meningkatkan kemandirian, dan 74% pekerjaannya menjadikan mereka panutan yang baik bagi anak-anak mereka.

Tidak mudah memang mengubah pola pikir patriarki yang sudah mengakar kuat dan membuka jalan agar perempuan lebih mudah dalam meniti karir dan mengembangkan bisnisnya. Namun dengan situasi saat ini, dan fakta bahwa memiliki pekerjaan dapat membuat perempuan merasa lebih percaya diri dan mandiri, mari kita semua berharap bahwa hal ini bukan menjadi hal yang mustahil. Semangat Hari Perempuan Internasional di tahun 2019 hanyalah langkah awal bagi semua perempuan dan laki-laki untuk sadar sepenuhnya, bahwa dengan bersama mendukung kesetaraan, kesejahteraan ekonomi akan meningkat.

-DLA-