Graduation AJI, Bicara Kesetaraan Gender

Rabu, 9 Januari 2019, berlangsung Graduation “Gender Equality in the Workplace”, di mana kegiatan ini merupakan puncak sekaligus penutupan rangkaian kegiatan kelas belajar jurnalis yang dilaksanakan oleh IBCWE bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Para peserta kelas belajar yang berjumlah 20 ini berasal dari media cetak, online dan televisi dari Sumatra hingga Papua. Mereka telah menyelesaikan kelas mengenai gender di dunia kerja yang diadakan pada Juni 2018, membuat liputan mengenai perempuan di dunia kerja sesuai daerah masing-masing, dan mengumpulkan kembali kepada AJI.

Acara Graduation ini dibuka oleh Catharina Widjaja, Direktur PT Gajah Tunggal Tbk, sekaligus jajaran dewan IBCWE. Dalam pidato pembukaan, Catharina Widjaja menyampaikan, “Rekan-rekan AJI memiliki peran penting dalam menyebarkan informasi dan mengedukasi masyarakat luas mengenai isu kesetaraan gender, agar kepedulian makin timbul dan gerakan pemberdayaan ekonomi perempuan dapat benar-benar terwujud”. Rekan-rekan jurnalis diharapan dapat membawa isu ini menjadi sebuah tajuk yang penting untuk dibahas, bukan hanya selingan atau pasokan saat media kekeringan bahan liputan.

Dalam diskusi pada acara Graduation ini, Nani Afrida, dari Anadolo Agency, Kantor Berita Turki, membagikan pengalamannya dari perspektif jurnalis. Bagaimana rintangan jurnalis di lapangan yang sering kali mendapat diskrimasi karena dianggap tidak kompeten, pelecehan yang diterima dari narasumber, hingga kekerasan yang berujung kematian. Selain itu, perempuan juga masih dipandang sebelah mata sebagai narasumber. Perempuan tidak valid argumennya untuk headline, lebih cocok diletakkan di rubric yang halus seperti kecantikan dan mode.

Secara lebih umum, posisi perempuan di tempat kerja tidak jauh berbeda menurut penuturan Maya Juwita, Executive Director IBCWE. Bahkan sering kali ketika perusahaan sudah mau melakukan upaya perbaikan untuk kesetaraan gender, rupanya hal ini tidak didukung pemerintah. Sebagai contoh adanya perda Tangerang yang melarang perempuan keluar lebih dari jam 6 sore, yang menyulitkan PT Gajah Tunggal Tbk mengatur kerja shift bagi pegawai perempuan. Stigma perempuan harus di rumah juga menyulitkan perempuan untuk maju dan berdaya secara ekonomi. Hal ini rupanya berdampak pada penurunan posisi kesetaraan gender Indonesia menjadi rangking 85 dari data World Economic Forum.

Hal ini tentu saling terkait, karena media sebagai saluran informasi masyarakat memiliki pekerjaan rumah yang besar. Baik di dalam tubuh media itu sendiri, untuk menciptakan aturan yang bebas bias gender, setara dan inklusif, hingga dapat menumbuhkan pemahaman sensitif gender ke semua level dalam tubuh media. Dengan itu setiap tulisan, berita dan liputan yang dihasilkan akan lebih berbobot dan tidak bias. Seperti kasus prostitusi online yang sedang marak dibincangkan, menurut Ketua Umum AJI, Abdul Manan, banyak media yang melanggar kode etik dan nampak tidak mempedulikannya, karena berita-berita seperti ini adalah click bait yang laris karena obyektifitas perempuan. Berbeda dengan kasus pelecehan seksual oleh petinggi BPJS, kasusnya tidak ramai dimuat di media karena dianggap kurang menarik, perempuan yang menuntut dan bukan sebagai obyek tidak mendapat eksposur media yang seharusnya. Abdul Manan berharap, melalui forum-forum seperti ini jurnalis lebih sensitif terhadap isu gender ke depannya dan sadar betul etika yang harus dipegang.

Di akhir acara diumumkan pemenang liputan berita terbaik dari masing-masing kategori media. Dari media cetak pemenang terbaik Muhammad Kasim dari Suara NTB dengan judul Nurbaya Sari, Kerinduan pada Perdamaian. Kategori online pemenang terbaik Nurika Manan dari KBR.id dengan judul Cerita Buruh Hamil di Industri Garmen. Terakhir dari kategori televisi adalah Agnes Sinambela dari DAAI TV dengan judul Ruang Kasih untuk Pejuang ASI. Selamat kepada semua pemenang dan terima kasih kepada jurnalis yang telah mengikuti kelas belajar kesetaraan gender. Semoga ilmu yang didapatkan dapat disebarluaskan sehingga lebih banyak masyarakat yang paham apa itu kesetaraan gender dan manfaat pemberdayaan ekonomi perempuan.