Olimpiade Tokyo 2020, Benarkah Sudah Mencapai Kesetaraan Gender?

Komite Olimpiade Internasional mencatat Olimpiade Tokyo 2020 menjadi kali pertama dalam sejarah Olimpiade sebagai pertandingan dengan partisipasi perempuan dan laki-laki yang hampir setara. Begitu pula dengan partisipasi pekerja perempuan di komite yang mengalami kenaikan dari tahun-tahun sebelumnya.

Sejarah Perempuan dalam Olimpiade


Peran Perempuan dalam Olimpiade Tokyo 2020 

Seiko Hashimoto menggantikan Yoshiro Mori sebagai Ketua Komite Penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020. Seiko Hashimoto adalah seorang pemenang Olimpiade sebanyak tujuh kali, seorang mantan Menteri Olimpiade Jepang, dan seorang Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender sejak 2019.

Hashimoto mengumumkan bahwa panitia penyelenggaraan Olimpiade telah membentuk tim promosi kesetaraan gender dan pekerjaan pertama mereka adalah meningkatkan proporsi perempuan di dewan menjadi 40 persen.

Keadaan partisipasi perempuan dalam Komite Olimpiade Internasional saat ini adalah 37 persen perempuan dalam keanggotaan, 33 persen perempuan dalam dewan eksekutif, 53 persen perempuan dalam administrasi, dan perempuan menyumbang 47,8 persen dari anggota komisi Komite Olimpiade Internasional yang memberi nasihat kepada organisasi tentang isu-isu tertentu seperti etika, sains, dan atlet.

Namun, kesetaraan gender bukan hanya tentang menambahkan partisipasi atlet perempuan atau pekerja komite perempuan tapi juga tentang membangun lingkungan kerja ramah perempuan yang memungkinkan mereka menghasilkan kinerja secara maksimal dengan kesempatan dan akses yang setara.

Persiapan Olimpiade Tokyo 2020 ternyata tidak luput dari bias gender. Yoshiro Mori, mengundurkan diri pada bulan februari 2021 karena mengeluarkan komentar stereotip pada perempuan. “If we increase the number of female board members, we have to make sure their speaking time is restricted somewhat, they have difficulty finishing, which is annoying.”

Adapula Hiroshi Sasaki, penanggung jawab upacara pembukaan dan penutupan Olimpiade Tokyo 2020 juga mengundurkan diri pada bulan Maret 2021 karena memberi kesan bahwa atlet perempuan bisa membuat Olimpiade menjadi seperti “Olympig”.

Meskipun belum mencapai kesetaraan gender sepenuhnya, namun kemajuan ini perlu diapresiasi. Peningkatan-peningkatan ini akan menjadi pendorong untuk Olimpiade berikutnya atau kegiatan olahraga serta komite lainnya untuk membuat kesempatan dan akses yang setara serta lingkungan kerja yang ramah perempuan.

 

16 Agustus 2021

Tiara Tri Hapsari

 

Sumber:

Photo by Anthony from Pexels

https://www.nytimes.com/2021/07/22/sports/olympics/olympics-athletes-gender.html 

https://www.dw.com/en/tokyo-2020-ioc-claims-games-to-be-gender-balanced-but-equality-is-not-so-simple/a-58573147 

https://www.idntimes.com/sport/arena/margith-juita-damanik/diikuti-49-persen-atlet-perempuan-olimpiade-tokyo-cetak-sejarah/4

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-56249816

https://theconversation.com/the-tokyo-olympics-are-supposed-to-be-a-landmark-in-gender-equality-are-the-games-really-a-win-for-women-164234