Becoming A Leader 101

Pada tanggal 30 Juni 2021, IBCWE mendapat kesempatan untuk menjadi moderator dalam kegiatan SheHacks 2021 untuk mengulik pengalaman menjadi seorang pemimpin perempuan di industri teknologi dan keuangan dari Tessa Wijaya, Chief Operations Officer Co-Founder Xendit dan penelitian serta keadaan di Indonesia saat ini terkait pemimpin perempuan dari Dwi Yuliawati-Faiz, Head of Programmes UN Women Indonesia.

Dalam kegiatan tersebut, Tessa Wijaya membagikan beberapa cara bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik. 

Lead from the front

Jadilah pemimpin yang dapat terlihat dan terlibat. Sesekali ikut membantu pekerjaan tim untuk tahu apa yang sedang mereka kerjakan, masalah apa yang dihadapi, dan hal apa yang bisa ditingkatkan untuk kemudian menyusun langkah strategis yang lebih baik.

Be specific, set smart goals

Penting bagi pemimpin untuk selalu jelas mengenai tujuan yang ingin dicapai dan bagaimana cara mencapainya agar tim tidak mengalami kebingungan saat menerjemahkannya ke dalam pekerjaan mereka.

SMART

Target ringkas yang berfokus hanya pada satu bidang pencapaian. Baiknya tujuan harus bisa segera dipahami oleh siapapun yang membaca atau mendengar tujuan tersebut.

Metriks yang jelas untuk melacak kemajuan dan mengidentifikasi kapan bisa mencapai tujuan.

Tujuan harus realistis mengingat sumber daya, waktu dan instrument lainnya.

Tujuan harus berharga dan penting tidak hanya untuk pemimpin tapi juga untuk tim, organisasi dan mungkin masyarakat luas.

Target waktu yang jelas untuk mencapai tujuan agar dapat melakukan hal-hal yang sudah direncanakan secara tepat.

Culture is everything

Budaya di kantor adalah karakter dan kepribadian sebuah organisasi. Pemimpin harus bisa membangun nilai-nilai, tradisi, kepercayaan, interaksi dan sikap yang positif dalam perusahaan, sehingga menjadi sebuah budaya yang positif. Di mana budaya tersebut akan mempengaruhi dan mendorong cara kerja serta bagaimana pekerja berinteraksi secara intenal maupun eskternal. Dampak yang dihasilkan dari budaya yang positif adalah pekerja dan pelanggan.

Have empathy

Seorang pemimpin, harus bisa membayangkan diri berada di situasi atau kondisi seseorang dalam tim atau organisasinya, sehingga bisa memahami perspektif, opini atau cara pandang anggota tim. 

Tapi masih banyak orang yang beranggapan bahwa pemimpin baiknya berpikir dengan logika bukan dengan perasaan. Padahal dibutuhkan keduanya untuk dapat membuat sebuah keputusan.

“Sebagai pemimpin perempuan, hanya karena kamu memiliki empati bukan berarti kamu tidak berpiki logik. Itu tidak benar. Dengan kita mengerti lawan bicara kita maunya seperti apa, kita bisa sampai ke garis akhir lebih cepat, kita bisa tutup perselisihan dengan lebih baik, kita akan bertemu di titik pertemuan lebih cepat juga,” Tessa Widjaya – Xendit.

Berpikir dengan logika berarti berpikir berdasarkan data atau fakta, sedangkan berpikir menggunakan perasaan berarti memahami pandangan yang berbeda dari setiap anggota tim dan itu juga sebuah fakta. Ketika keduanya digabungkan, kebijakannya akan lebih berdampak.

Vulnerability in leadership is important

Sebagai pemimpin, tidak perlu harus selalu sempurna setiap saat. Tidak apa-apa tidak mengetahui semua hal, sesekali meminta pendapat atau. Meminta bantuan dari anggota tim. Dengan menunjukkan kerentanan tersebut, memungkinkan dialog yang lebih terbuka dan keingingan untuk melibatkan diri dari anggota tim.

“Untuk menjadi pemimpin yang baik, harus terus belajar, harus terbuka, harus berani bertanya ke orange lain dan belajar dari orang lain,” ucap Tessa Widjaya – Xendit 

Listen

Sebagai pemimpin, harus banyak mendengarkan orang lain, mendengarkan feedback, mendengarkan informasi yang ada untuk kemudian menjadi pertimbangan ketika mengambil keputusan.

Empower

Jika seorang pemimpin hanya bergerak sendirian, dampaknya hanya akan dikit aja.

Tapi kalau pemimpin bisa mengajarkan dan mengembangkan anggota tim agar bisa berdaya untuk melakukan apa yang dilakukan oleh pemimpin. Dengan kekuatan banyak orang, akan membuat lebih banyak dampak. 

Inspire

Sebagai pemimpin, menginspirasi orang lain dan membangkitkan semangat adalah cara terbaik mendapatkan dukungan untuk menjalani sebuah misi. Gunakan cara-cara yang praktikal agar lebih mudah untuk dipahami anggota tim dalam menggambarkan atau menyelesaikan sesuatu masalah, kemudian berikan mereka motivasi untuk melakukan pekerjaan dengan berani dan mengambil tanggung jawab atas hasil pekerjaan tersebut. Dengan begitu, pemimpin akan menginspirasi melalui pemberdayaan, bukan hanya melalui perintah dan kontrol.

 

***


Sesi tanya jawab

 

Tanya

Bagaimana faktor lingkungan kerja atau secara sosial bisa membentuk sebuah karakter pemimpin dalam perempuan?

Jawab

Faktor sosial dan lingkungan kerja memainkan peran besar dalam membentuk kualitas kepemimpinan. Gender bias dan stereotype yang hadir karena sosial budaya akan mempengaruhi sistem dalam lingkungan kerja.

Lingkungan kerja yang tidak ramah dengan perempuan, membuat kebanyakan perempuan menjadi kurang percaya diri, merasa harus bekerja lebih keras, atau bahkan merasakan burnot. 

Proses-proses sosial yang mereka lalui untuk menaiki tangga karir hingga berhasil menduduki kepemimpinan ini menjadi faktor tambahan pembentukan karakter kepemimpinan mereka.

 

Tanya

Apakah punya metode khusus untuk mensosialisasikan budaya organisasi atau perusahaan?

Jawab

Para pemimpin perlu menyadari bahwa metode pertama untuk mensosialisasikan budaya organisasi adalah kepada pekerja baru. Pemimpin harus berhati-hati dalam memastikan proses sosialisasi tidak dibiarkan begitu saja. Sebaliknya, itu perlu dipelajari, dipahami, direncanakan dan terstruktur. Ada tiga tahap yang bisa diikuti:

Juga dikenal sebagai tahap sosialisasi antisipatif. Terjadi ketika tahap interview pekerja potensial. Baiknya mereka mulai diperkenalkan dengan budaya organisasi untuk melihat reaksi mereka dalam bentuk antusiasme, nilai yang dipegang, sikap, dan perilaku tertentu. Pastikan gambaran yang diberikan tidak dilebih-lebihkan.

Juga dikenal sebagai tahap pertemuan. Terjadi dalam beberapa minggu pertama. Pekerja baru akan menelaah budaya organisasi yang sebelumnya digambarkan dengan yang dirasakan secara langsung. 

Juga dikenal sebagai tahap metamorphosis. Terjadi ketika pekerja baru memahami tentang organisasi dan mulai mengidentifikasi diri mereka dalam organisasi. Jika mereka mendapatkan budaya yang positif, mereka akan menjadi contributor dalam mencapai tujuan organisasi. Sebaliknya, jik amereka mendapatkan budaya yang negative, mereka tidak akan bertahan diposisi tersebut.

Jika tingkat pergantian pekerja tinggi, pemimpin perlu meninjau ulang berbagai faktor termasuk budaya yang ada dalam organisasi.

Berbeda hal jika ada perubahan budaya yang diinginkan dalam sebuah perusahaan, target pertama dalam mensosialisasikannya adalah para Managerial Level, Human Resources Department, para pekerja saat itu, kemudian pekerja baru.

 

Tanya

Melihat di masa yang akan datang, bagaimana optimisme dalam melihat perempuan Indonesia bisa mendunia berkat kemampuan kepemimpinannya?

Jawab

Potensinya ada tapi memang harus didukung oleh banyak pihak seperti keluarga, pasangan, pertemanan, organisasi atau perusahaan. Perlu melihat bahwa ada banyak situasi berbeda yang dihadapi perempuan sehingga butuh penyesuaian agar mereka bisa bertahan di angkatan kerja. 

Misalnya, mulai belajar mengurangi bias gender, hadirkan lebih banyak pemimpin perempuan yang bisa menjadi panutan, memiliki praktik atau kebijakan yang ramah perempuan.

Saat ini kita sudah memiliki Ibu Sri Mulyani yang pernah menjabat sebagai Managing Director of the World Bank Group, Ibu Sonita Lontoh yang saat ini menjabat sebagai Global Head of Marketing (CMO) HP - sebuah perusahaan teknologi Amerika Serikat, Ibu Catharina Widjaja yang saat ini menjabat sebagai Director of PT Gajak Tunggal – produsen ban terbesar di Asia Tenggara.

Mereka adalah perempuan-perempuan yang memenuhi syarat secara akademisi, dan berani menembus hambatan.  Kita perlu punya banyak panutan, biar semakin menginspirasi dan bisa mengubah budaya.

 

Tanya

Bagaimana caranya menghadapi perkataan rekan kerja yang tidak senang memiliki pemimpin seorang perempuan?

Jawab

TIdak semua harus kamu masukkan ke dalam hati karena nanti bisa bikin drop. Pilih-pilih lagi responnya, mungkin ada yang bisa menjadi kritik baik dan memotivasi kamu untuk mengembangkan diri dan bekerja lebih baik. Sehingga, kamu bisa menunjukkannya melalui kinerja atau melalui opini-opini yang berdasarkan data atau fakta.

 

Tanya

Bagaimana menghadapi rekan kerja yang jabatannya lebih rendah, namun dari segi usia serta waktu kerja lebih senior sehingga merasa lebih ‘paham’?

Jawab

Jangan perlakukan dia sebagai bawahan tapi lebih kepada rekan kerja biasa. Di mana komunikasi terjadi dua arah, kamu dan dia sama-sama bisa memberikan opini dan bertanya. 

Usahakan selalu memberikan alasan jelas atas opini terhadap sesuatu, tujuan yang ingin kamu capai, strategi kamu. Dengan begitu, dia akan mengerti cara berpikir kamu.

Fokuskan diri kamu pada hasil, bukan bagaimana dia menyelesaikan pekerjaan. Setiap orang pasti memiliki cara berbeda untuk melakukan sesuatu. Biarkan hal tersebut, selama hasilnya dapat tercapai dengan baik.

Bangunlah lingkungan kerja yang saling menghargai sehingga seiring waktu dia akan menghargai kepemimpinanmu bukan kamu yang mendominasi secara tegas bahwa kamu pemimpin dan dia bawahan. 

  

Tanya

Di beberapa lingkungan, masih ada stereotype bahwa perempuan tidak cocok bekerja di bidang tertentu, contohnya STEM. Bagaimana menghadapinya?

Jawab

Kita harus mendengarkan orang yang tepat, jangan semua omongan negatif dari orang lain, kita langsung jatuh. Ketika ada kesempatan, ambil. Ketika dikasih kesempatan, kerjakan sebaik mungkin. Kamu bisa mencari mentors, rolemodels, atau champions untuk membantu atau memotivasi kamu.

Jika kamu berusaha dan bekerja secara cerdas. Maka, kamu pasti bisa bekerja di bidang manapun yang kamu mau!

 

Tonton siaran ulangnya dalam Youtube Channel SheHacks 2021


Sumber:

 

Business photo created by DCStudio - www.freepik.com