Memberikan Ruang yang Cukup Kepada Perempuan Tidak Semata-mata Hanya Isu Gender

Photo by MART PRODUCTION from Pexels


Saat ini tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan masih 30% lebih rendah daripada laki-laki dan perempuan berpenghasilan rata-rata 25% lebih rendah daripada laki-laki.

Hal tersebut ada karena masih adanya norma gender yang berlaku di masyarakat dan perusahaan seperti:

  1. Peran utama perempuan dianggap sebagai pengasuh bagi anak-anak dan anggota keluarga, serta pengurus rumah.

  2. Peran utama laki-laki sebagai pencari nafkah.

  3. Persepsi bahwa jenis pekerjaan tertentu lebih cocok untuk perempuan atau pria, menyebabkan segregasi pekerjaan.

  4. Persepsi perempuan lebih baik dalam peran suportif dan laki-laki sebagai pemimpin yang lebih baik.

Selain terus mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap norma gender ini, perusahaan juga dapat mengatasi permasalahan tersebut dengan mengubah atau membangun kebijakan serta praktek dengan menggunakan lensa gender agar perempuan bisa mengembangkan diri.

“Memberikan ruang yang cukup kepada pemimpin perempuan tidak semata-mata hanya isu gender tapi juga menangani masalah bisnis. Data menunjukkan bahwa memberikan ruang pada perempuan harus segera dilakukan oleh perusahaan karena berkaitan dengan kinerja perusahaan. Dengan bertambahnya keberadaan pemimpin perempuan, kinerja perusahaan pun terus meningkat,” ungkap Emma Sri Martini, Ketua IV Srikandi BUMN/Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) dalam sesi diskusi Women Empowerment at the Workplace yang diadakan oleh Universitas Indonesia - Kampus Ramah Perempuan (21/04/2021).


Dampak Kepemimpinan Perempuan pada Kesehatan Organisasi menurut McKinsey (2021):

Stronger Organization Health

Memberikan lingkungan kerja yang lebih sehat. Perempuan memiliki beberapa sifat alami yaitu empati, perhatian, peduli sehingga mereka bisa memperlakukan anggota tim dan pelanggan dengan lebih baik.

Broader Leadership Capabilities. 

Kebijakan-kebijakan akan dibangun lebih selaras untuk bisa mendukung dan membuat lingkungan yang lebih kondusif dari berbagai sistem pendukung. Sehingga perusahaan mendapatkan dan mempertahankan talenta-talenta terbaik.

Improved Decision Making.

Bagaimana pengambilan keputusan dibuat antara pemikiran, rasional, paradigma dari pemimpin perempuan dan pemimpin laki-laki yang hasilnya dapat digabungkan, dikompromikan sehingga menghasilkan keputusan yang komprehensif karena melihat dari berbagai aspek.

Improved Corporate Governance. 

Terdapat hasil nasional terkait ini, di mana organisasi kehilangan perempuan di setiap tingkatan. Semakin naik posisinya, semakin mengecil persentase perempuan. Dengan adanya pemimpin perempuan, diharapkan dapat membangun tata kelola perusahaan yang lebih baik berdasarkan perspektif dan pengalaman mereka sehingga meningkatkan persentase perempuan.



Bagaimana cara menunjukkan kepemimpinan perempuan supaya dianggap mampu? 

“Perempuan banyak mendapatkan hambatan ketika menjadi pemimpin, salah satunya adalah double bind. Ketika kepemimpinan selalu dikaitkan dengan maskulinitas, banyak pemimpin perempuan mengadopsi sifat maskulin supaya bisa diakui di ‘boys club’. Tapi kemudian perempuan dianggap kejam ketika laki-laki dianggap tegas. Perempuan yang mengadopsi sifat maskulin dalam hal kepemimpinan, dampaknya tidak selalu bagus,” jelas Maya Juwita, Direktur Eksekutif IBCWE.


Lalu bagaimana perempuan bisa menjalaninya?

Pertama yang harus dilakukan adalah, menerima diri sendiri, apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan. Manfaatkan sifat feminine untuk jadi pemimpin yang lebih baik. Situasi pandemi  ini ternyata menunjukkan dunia membutuhkan pemimpin yang memiliki empati lebih dalam untuk memimpin organisasi yang mana itu adalah sifat feminin alami dari perempuan. 

Perusahaan pun perlu mengatasi stereotip gender dan bias gender di perusahaan yang dapat mengakibatkan pemisahan pekerjaan dan kesempatan yang terbatas bagi perempuan untuk mencapai posisi pemimpin karena masih banyak pekerja perempuan yang memiliki kesempatan untuk menempati posisi tertinggi dalam sebuah organisasi namun mereka tidak meraihnya dengan alasan-alasan di luar dari kualifikasi.

Perlu diingat, semakin banyak pemimpin perempuan, akan semakin baik juga kinerja perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung.


27 April 2021 / Tiara Tri Hapsari