Pola Pengasuhan Setara: Keuntungan Bagi Orang Tua dan Anak

Sumber foto: freepik.com

 

Selama ini pengasuhan anak selalu dibebankan pada perempuan sebagai ibu, ternyata keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak di rumah memberi dampak yang positif ke dalam lingkungan kerjanya. Keberhasilan-keberhasilan kecil pada perkembangan anak bisa memberikan perasaan keberhasilan pada seorang ayah yang membuat kepribadiannya menjadi jauh lebih positif, bila dibandingkan dengan ayah yang hanya memiliki keterlibatan kecil dalam pengasuhan anak-anaknya di rumah.

“Keberhasilan-keberhasilan kecil anak di rumah membuat seorang ayah lebih tidak agresif. Hal ini akan terbawa ke lingkungan kerjanya. Menjadi karyawan yang lebih nurturance, hubungannya dengan atasan dan bawahan menjadi lebih baik,” ujar Edward Andriyanto, Psikolog Klinis Anak, dalam diskusi Perayaan Hari Ayah Nasional 2020, Millennial Parenting: Pola pengasuhan Setara yang digelar oleh Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) bersama AQUA dan Sarihusada, pada 12 November 2020.

Edward juga menambahkan, keterlibatan ayah dalam mengasuh buah hati bukanlah sebuah pengorbanan melainkan penghargaan. Lebih lagi, hubungan suami istri serta kepuasan dalam pernikahan juga akan meningkat. “Afeksi, kasih sayang, kenyamanan, serta kepercayaan diri akan didapatkan. Itulah hadiah dan kesuksesan apabila seorang ayah melibatkan diri dalam pengasuhan anak,” jelasnya.

HR Director – Business Services AQUA dan Sarihusada, Dedie Renaldi juga menyatakan hal yang senada. Pengasuhan setara akan memberi timbal balik yang positif kepada perusahaan. Untuk itu, perusahaan mendukung keterlibatan karyawan laki-laki dalam pengasuhan anak-anaknya. “Apa yang kita lakukan di perusahaan berusaha untuk menyentuh banyak orang. Perusahaan mendukung para karyawan untuk menumbuhkan kesetaraan gender. Tak hanya di kantor tapi juga di rumah masing-masing, supaya bisa memberikan pengaruh yang lebih baik di lingkungan kerja,” tambahnya.

Pola pengasuhan setara adalah pola pengasuhan yang menghilangkan norma-norma gender yang sudah berlaku di masyarakat selama ini. Banyak kehawatiran di masyarakat jika pola pengasuhan ini memberi dampak negatif pada anak-anak mereka terutama dari kecenderungan seksual mereka.

Edward kembali menjelaskan bahwa tidak ada hubungan antara pola pengasuhan setara dengan kecenderungan seksual anak. Pengertian pola pengasuhan setara yang tepat adalah melibatkan anak-anak dalam kegiatan atau aktivitas orang tua, sehingga si anak memiliki kebebasan untuk menjelajahi segala bidang yang ada.

“Preferensi seksual, gender, dan jenis kelamin adalah tiga hal berbeda. Gender neutral parenting itu lebih kepada keterbukaan pemikiran, bukan pada preferensi seksual anak,” ujarnya lagi.

 Direktur Eksekutif Yayasan Plan Internasional Indonesia, Dini Widiastuti mengatakan, pola pengasuhan setara ini sangat baik untuk memaksimalkan potensi anak, pilihan bidang profesional yang akan ditempuh anak juga akan lebih beragam. “Siapa tahu anak laki-lakimu akan menjadi chef terkenal atau anak perempuanmu menjadi presiden atau profesi apapun yang jarang dilakoni perempuan. Kita harus membuka kesempatan seluas-luasnya untuk mereka (anak_red), kalau kita menutup (kesempatan) itu sejak dini, sangat disayangkan,” lugasnya.

Selain itu, ada anggapan di masyarakat kalau laki-laki tidak boleh cengeng, namun menurut Public Figure, Fedi Nuril, hal itu merupakan kelemahan ketika dirinya terjun ke dunia akting. Menurutnya, sensitivitas sangat dibutuhkan untuk menjadi aktor yang mumpuni. “Saya selalu diberitahu sejak kecil kalau anak laki-laki itu tidak boleh cengeng. Namun ketika masuk ke dunia perfilman ternyata memerlukan sensitivitas yang lebih tinggi. Agar emosi dari tokoh yang diperankan bisa benar-benar dirasakan oleh penonton”, ungkapnya.

Dia juga menambahkan, sebagai orang tua, Fedi memandang bahwa anak menangis adalah salah satu bentuk ekspresinya dalam mengutarakan perasaannya. Sehingga memerlukan cara yang tepat untuk menanggapinya. “Kalau anak saya nangis, saya cenderung membiarkannya dan memeluknya. Tapi saya lihat juga dia menjadi mudah move on, tidak lama kalau nangis. Kalau nanti dia mau menjadi aktor, semoga dia lebih sensitif dan tidak terkurung dalam norma kalau laki-laki tidak boleh cengeng”.

Edward juga menyatakan, sebagai orang tua sebaiknya membiarkan anak-anaknya untuk mengekspresikan diri, salah satunya adalah menangis. Menurutnya, bila anak laki-laki tidak diperbolehkan menangis, maka saat dewasa nanti dia akan melampiaskan emosi itu dengan bentuk agresivitas.

Maka dari itu, ketidaksetaraan dalam pengasuhan adalah pola pengasuhan yang sangat merugikan untuk semua pihak, baik orang tua dan anak. “Menjadi ayah dan ibu adalah full time job, keduanya harus berperan penuh,” tambah Edward.

IBCWE memandang pola asuh netral gender ini sangat penting untuk diterapkan para orang tua supaya mendorong anak untuk menggali semua minat, karir, dan hobi yang ia inginkan. Direktur Eksekutif IBCWE, Maya Juwita menambahkan, hal ini sangat penting agar semakin banyak perempuan mendapat kesetaraan dalam dunia kerja, baik dari bidang pekerjaan maupun hak-haknya sebagai pekerja.