Pola Asuh Netral Gender Mendorong Anak untuk Menggali Semua Minat, Karir, dan Hobi yang Diinginkan.

Bias gender tanpa disadari diaplikasikan oleh para orang tua kepada anak sejak usia dini. Mulai dari pemilihan warna baju untuk anak perempuan dan laki-laki hingga pemilihan mainan, di mana anak perempuan diberikan boneka, rumah-rumahan, peralatan masak-masakan sedangkan laki-laki diberikan bola, mobil-mobilan, dan robot.

Tentu saja pola asuh yang tepat sangat penting untuk pengembangan pribadi masing-masing anak. Apabila anak sudah dibatasi sejak dini, maka dia tidak akan mencapai potensi maksimal yang dia miliki.

Pemahaman istilah gender neutral parenting memang masih menjadi polemik di masyarakat. Padahal, maksud netral di sini adalah menghindari norma gender yang berlaku secara umum, bukan menghapus perbedaan jenis kelamin.

Jadi, pola asuh yang netral gender adalah ketika orang tua membesarkan anak mereka tanpa memaksakan norma-norma gender yang sudah ada sebelumnya. Gender neutral parenting membuat anak bisa mengekspresikan diri mereka dengan lebih leluasa dan memilih hal-hal apa yang mereka suka.

Berdasarkan Jurnal Obsesi; Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini tahun 2020 tentang “Bias Gender dalam Pola Asuh Orangtua pada Anak Usia Dini”, ada bias gender dalam pengasuhan anak usia dini yaitu 65,31%. Kemudian hasil analisis lebih lanjut bahwa terdapat perbedaan tingkat bias gender dalam pola asuh adalah pola asuh permisif 29,61%, pola asuh demokratis 22,01% dan pola asuh otoriter 55,14%.

Pola asuh otoriter adalah salah satu bentuk perlakuan yang diterapkan orang tua pada anak dalam rangka membentuk kepribadian anak dengan cara menetapkan standar mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. 

Nilai patriarki sendiri ditandai dalam bentuk penurunan marga atau nama keluarga kepada anak laki-laki, seperti pada suku Batak, Ambon, atau Minahasa. Sehingga secara tidak langsung membuat nilai anak perempuan berada di bawah anak laki-laki. Nilai tersebut sudah mengakar di dalam masyarakat dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Tidak menutup kemungkinan akan menyebabkan diskriminasi kepada salah satu gender.

Dampak dari dari pola asuh tersebut mempengaruhi baik anak perempuan maupun anak laki-laki. Pada anak perempuan akan mendapatkan stereotip yang mengkotak-kotakan perilaku dan masa depan mereka. Berdasarkan eksperimen tirto.id, beberapa perempuan menjawab, “Perempuan berpendidikan tinggi susah dapat suami; Perempuan merokok itu cewek nakal; Perempuan enggak usah sekolah tinggi, nanti juga jadi istri; Perempuan pulang malam itu murahan; Ibu rumah tangga lebih baik daripada mengejar karier; Perempuan berjilbab direpresi agama.”

Sedangkan dampaknya bagi laki-laki yang diwakilkan oleh Aliansi Laki-laki Baru (ALB), "Kami juga menyadari bahwa keistimewaan yang diberikan kepada laki-laki harus "dibayar" dengan mahal. Sedemikian banyak tuntutan yang dibebankan kepada kami agar diakui sebagai seorang laki-laki akhirnya menjadi beban yang harus dipenuhi di dalam hidup."

IBCWE memandang pola asuh netral gender ini sangat penting untuk diterapkan para orang tua supaya mendorong anak untuk menggali semua minat, karir, dan hobi yang ia inginkan. “Partisipasi perempuan pada STEM (Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika) sangat kecil dibanding laki-laki, dan salah satu penyebabnya adalah dari norma-norma gender yang tertanam di masyarakat Indonesia sejak kecil,” ujar Maya Juwita, Direktur Eksekutif IBCWE.

Padahal, menurut Konvensi Hak Anak PBB, setiap anak berhak untuk mendapatkan haknya tanpa memandang latar belakangnya, termasuk gender. Hak-hak tersebut termasuk hak untuk berekspresi dan mengeluarkan pendapat, mendapat perlindungan, belajar dan bermain, hingga hak untuk berkembang untuk mencapai potensi maksimalnya. 

Ketidaksetaraan gender pada pola asuh anak bisa berdampak pada ketidaksetaraan anak mendapatkan haknya, hal ini berarti mengabaikan hak anak untuk berkembang maksimal sesuai potensinya.

Sebagai orang tua, sebaiknya tidak menetapkan stereotip gender sebagai mainan anak laki-laki dan perempuan, karena dapat memengaruhi anak dalam perkembangan psikologis dan fisik mereka. Biarkan anak bermain dengan berbagai macam mainan, sebagaimana tidak membedakan berdasarkan warna biru atau merah muda.

Untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai pola pengasuhan setara, IBCWE mengadakan event berjudul “Millennial parenting: Pola Pengasuhan Setara” tepat pada perayaan Hari Ayah Nasional tanggal 12 November 2020, pukul 14.00 – 16.00 WIB, melalui Zoom Webinar. 

Diskusi ini juga akan dihadiri oleh Bapak Ghafur Dharmaputra Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan Berkelanjutan Kementerian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Selain itu, hadir juga Ibu Shinta Kamdani selaku Anggota Dewan Pembina IBCWE, Ibu Dini Widiastuti Direktur Eksekutif dari Yayasan Plan International Indonesia, Bapak Dedie Renaldi HR Director – Business Service AQUA and Sarihusada, Bapak Edward Andriyanto sebagai Psikolog serta public figure, Fedi Nuril yang akan berbagi pengalaman parentingnya. 

Untuk pendaftaran, klik disini.