Upaya Tanpa Henti Mencapai Kesetaraan

IBCWE bekerja sama dengan Sekolah Jurnalisme Aliansi Jurnalis Independen (SJAJI) menggelar pelatihan singkat (short course) “Kesetaraan Gender di Dunia Kerja”. Pelatihan ini dikhususkan untuk kalangan jurnalis yang memiliki peran penting dalam mensosialisasikan isu kesetaraan gender di dunia kerja.  “Meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya isu kesetaraan gender merupakan salah satu fokus dari IBCWE. Dan salah satunya adalah melalui media tradisional maupun digital yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari masyarakat," ujar Direktur Eksekutif Dini Widiastuti tentang tujuan IBCWE menggelar pelatihan.

Ketua Dewan Pembina IBCWE Shinta Widjaja Kamdani mengangkat isu perlunya perusahaan meningkatkan partisipasi dan kepemimpinan perempuan. Hal tersebut tidak terlepas dari komitmen Negara G20 yang disampaikan tiga tahun lalu. Pertemuan para pemimpin Negara G20 menargetkan penurunan kesenjangan tingkat partisipasi antara laki-laki dan perempuan menjadi 25 persen di tahun 2025. Jika target ini dapat dicapai secara global, maka diperkirakan akan menaikkan potensi terbukanya 189 juta kesempatan kerja dan kenaikan GDP 26% atau senilai 28 triliun dolar. Namun upaya mencapai kesetaraan gender, khususnya di dunia kerja, masih menghadapi sejumlah tantangan. “Hal ini bisa bersumber dari internal penyedia pekerjaan seperti kebijakan perusahaan yang tidak sensitif gender dan tidak adanya penyediaan fasilitas pendukung perempuan untuk berkembang, maupun faktor eksternal dalam bentuk norma atau pandangan yang cenderung men-subordinasi perempuan,” ulas Shinta dalam kata sambutan yang dibacakan oleh perwakilan Dewan Pembina IBCWE Suyono Reksoprodjo.

Sementara menurut Ketua Umum AJI Abdul Manan, kesetaraan gender perlu terus mendapat perhatian karena masih terjadi praktik ketidaksetaraan  seperti diskriminasi di tempat kerja.  Misalnya tidak memposisikan perempuan sebagai pencari nafkah utama seperti halnya laki-laki," ujar Manan  yang menambahkan  perbedaan perlakuan ini berdampak pada diskriminasi pengupahan. Akibatnya, perempuan kerap tak mendapatkan tunjangan untuk suami dan anaknya. Padahal, jika laki-laki

berkeluarga bekerja, ia mendapatkan tunjangan untuk istri dan anaknya.

Pelatihan singkat untuk jurnalis dengan tema "Kesetaraan Gender di Dunia Kerja" ini dilaksanakan sejak pertengahan September hingga akhir November. Pelatihan diikuti oleh 17 peserta dari berbagai jenis media seperti cetak, televisi, radio dan daring. Jurnalis yang menjadi peserta berasal dari Republika, VIVA.co.id, satuharapan.com, RRI, Tempo, CNN TV, KBR, Detik.com, Tirto.id, Merdeka.com, RTV, Suara.com, Femina, Metrotvnews, dan Koran Jakarta. Mereka memperoleh materi dari 10 pertemuan yang diisi oleh pemateri berkompeten. Peserta pelatihan menyelesaikan kelasnya dengan membuat karya jurnalistik yang diterbitkan di media masing-masing. Mereka menyelesaikan proses dengan bimbingan dua orang mentor, Ati Nurbaiti dari The Jakarta Post dan Ging Ginanjar dari BBC. Upacara wisuda pada 7 Desember 2017 digelar menandai selesainya masa pelatihan. Lulusan pelatihan ini diharapkan menjadi jurnalis yang berperspektif sensitif gender dalam liputan sampai pembuatan karya jurnalistik selanjutnya.